Rabu, 15 Agustus 2012

Hafalan Sholat Delisa

Sumber gambar: wildancahyo.wordpress.com


Hafalan Sholat Delisa adalah sebuah judul film yang mengisahkan bencana tsunami Aceh Desember 2004. Masih ingatkah sahabat dengan kejadian tsunami tersebut? Saya masih duduk di semester 1 saat bencana itu terjadi. Saya masih ingat beberapa hari setelah kejadian itu saya berinisiatif membuat leaflet agar para mahasiswa menyalurkan donasi ke beberapa nomor rekening penyalur dana untuk tsunami Aceh. Saya memasang leaflet2 itu di semua papan pengumuman fakultas.

Sumber gambar: azzamyisc.wordpress.com


Adakah dari sahabat yang pernah menonton film ini? Pasti sudah ada. Adalah seorang anak yang bernama Delisa hidup bersama seorang umi dan ketiga kakaknya. Sedang abi Delisa dikisahkan bekerja nan jauh dari rumah mereka. Ketiga kakak Delisa bernama kak Fatimah, kak Zahra, dan kak Aisyah. Dimana yang bernama kak Aisyah terkadang bertengkar dengan Delisa. Aisyah iri dengan Delisa karena Delisa dibelikan kalung berliontin huruf “D” yang berarti “Delisa”. Namun di saat Aisyah menangis karena merasa iri , sang umi yang diperankan oleh Nirina Zubir, mendekati Aisyah dan menasehatinya. Saya melihat sosok umi ini adalah seorang yang ideal, sabar, penyayang, dan sangat memotivasi anak-anaknya. Namanya saya lupa siapa, hehe

Nah, hadiah kalung berlionton huruf D tersebut diberikan jika Delisa lulus ujian bacaan sholat. Hari ujian hafalan sholat itu tiba, saat di perjalanan menuju tempat ujian, Delisa sudah merengek kepada sang umi agar diberikan kalung itu. Kata umi Delisa, nanti setelah lulus ujian baru diberikan, kalung itu masih tersimpan di lemari rumah. Tapi Delisa terus merayu dan merengek kepada uminya. Tak kuasa menahan rengekan putrinya , akhirnya Delisa beserta uminya kembali ke rumah untuk mengambil kalung itu. Uminya Delisa memasukkan kalung itu ke dalam tasnya. Tahukah sahabat apa yang terjadi? Tiba-tiba terjadi gempa. Mereka berdua berusaha keluar dari rumah. Gempa itu hanya beberapa saat dan kemudian reda kembali. Mereka sempat panik sesaat.

Beberapa saat kemudian Delisa berpamitan dengan ketiga kakaknya. Sebenarnya saat itu Delisa sudah mengajak ketiga untuk ikut. Salah satu dari mereka menjawab “Tidak usah, kami dirumah saja”. Wajah mereka bertiga cukup riang saat berpamitan dengan adiknya yang hendak mengikuti ujian hafalan sholat.

Saat Delisa dan uminya berjalan beberapa meter meninggalkan rumah, Aisyah berteriak “Ayo Delisa kamu harus hafal, kalau tidak hafal nanti kalungnya buat Aisyah lo!”. Dan dijawab oleh Delisa, semuanya tersenyum.


Penguji hafalan sholat kalo tidak salah bernama ustadz Rahmat. Semua anak siap mengikuti ujian hafalan shalat tersebut. Umi Delisa terlihat di balik jendela ruang ujian. Dengan bahasa isyarat dia memberi motivasi pada Delisa, dan sesekali menunjukkan hadiah kalung itu. Nah, tiba saatnya giliran Delisa. Ustadz Rahmat memberi kalimat nasehat agar Delisa bisa. Delisa nampak yakin bisa. Bismilllah…Delisa melakukan takbiratul ihram. Beberapa saat kemudian gempa besar terjadi. Seluruh bangunan perlahan runtuh. Semua orang panik. Delisa masih khusyuk dalam shalatnya. Umi Delisa berteriak “Delisa, Delisa, Delisa!”. Tapi Delisa tetap khusyuk. Tiba-tiba air laut masuk ke daratan. Semuanya tenggelam. Mukena Delisa terlepas melayang terbawa air. Semua rumah lenyap. Saat adegan ini saya sempat tegang, air mata saya semakin basah. Apalagi setelah melihat mayat seorang anak yang meninggal mengapung di dalam air.

Berita tsunami itu akhirnya didengar oleh abinya. Kontan sebagai seorang abi tentu kaget, sedih, panik, entahlah semuanya bercampur jadi satu. Mengingat dia meninggalkan istri dan keempat anaknya tercinta, di sebuah rumah sederhana di pinggir laut. Sang abi pun pulang, dia menemui rumahnya sudah hancur tak bersisa. Saya tambah nangis saat melihat adegan sang abi Delisa menemui sebuah sisa anyunan yang biasa ada di depan rumah. Kemudian terlintas dalam ingatan sang abi celotehan dan tawa riang keempat anaknya. Banjir ni air mata.

Lalu sang abi berusaha mencari kabar keluarganya. Dia mendapat kabar bahwa Fatimah sudah dikebumikan, juga Aisyah dan Zahra. Mayat Zahra dan Aisyah ditemukan meninggal, keduanya dalam keadaan berpelukan. Seperti melambangkan kasih sayang yang besar antara kakak adik. Saya melihat tokoh abi Delisa ini sosok seorang yang tegar dan sabar. Istrinya belum ditemukan dimana, begitupula dengan Delisa. Dimana Delisa??

Di antara batu karang di pinggir pantai seorang anak merintih kesakitan dengan wajah pucat pasi dan kaki yang terluka berat. Dia terlihat sangat lemah, dia berusaha mengambil sebuah buah di dekatnya. Buahnya apa ya? kalo nggak salah apel dech . Anak itu melihat sebuah helikopter terbang di atasnya. Namun terlihat samar. Beberapa saat kemudian anak itu ditemukan oleh seorang relawan luar negeri, kalo tidak salah namanya Mr. Smith ya? Tokoh ini diperankan oleh mantan suaminya Tamara Bleszynki (aduh namanya susah amat sich:0), Mike Lewis ya namanya? Cocok banget dengan perannya.

Nah, anak yang diselamatkan oleh Mr. Smith itu adalah Delisa. Dia membawa Delisa ke rumah sakit dan nampaknya lama sadarnya, hingga semua merasa khawatir. Dari situlah kemudian muncul tokoh wanita yang merupakan relawan dari luar negeri juga. Aduh siapa sih namanya saya lupa lagi, hehe.., yang jelas nampaknya dia nantinya dikisahkan ada benih-benih cinta dengan ustdaz Rahmat.

Singkatnya, abi Delisa berhasil menemui Delisa. Mereka girang bukan kepalang. Aduh yang bikin terharu tuh adegan saat Delisa melihat kakinya yang tinggal satu. Dengan kondisi seperti itu Delisa masih berkata kegirangan, “Tapi kaki yang satunya masih bisa bergerak!”, subhanalloh, sangat terlihat ketegaran Delisa menghadapinya. Ditambah lagi dia harus kehilangan umi dan ketiga kakak tercintanya.

Hari demi hari dilalui oleh Delisa dan abinya. Abi Delisa membangun rumah lagi walau sangat kecil. Betapa hari-hari itu terasa beda tanpa kehadiran seorang umi dan ketiga kakaknya bagi Delisa. Sesekali dia teringat uminya. Namun saya melihat tokoh Delisa ini sangat kuat dan tegar. Saat kakinya yang tinggal satu itu, ia ngotot untuk bermain bola seperti hari-hari sebelum tsunami terjadi, bersama teman-temannya tentunya. Ketegaran menghadapi musibah mungkin itu hal yang bisa kita pelajari dari Delisa.

Sumber gambar: kluat-computer.blogspot.com


Dalam tayangan (seperti mimpi) Delisa bertemu dengan uminya. Delisa hendak diberi kalung hadiah hafalan shalat oleh uminya yang belum sempat diterima. Tapi Delisa menolak dan mengatakan dia tidak ingin hadiah, dia hanya ingin bisa melaksanakan shalat dengan baik.

Begitulah sahabat resensi film Hafalan Shalat Delisa. Saya habis banyak tisu selama menonton (maaf ya suamiku :0) . Selamat menonton sahabat! Semoga bisa mengambil hikmah yang baik dari film Hafalan Shalat Delisa.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar