Kamis, 05 Januari 2012

DIA BUKAN BAYIKU

  Dibuat oleh: Anjar Pujiyanti



Namaku Sumiyem. Aku sudah mempunyai empat anak. Tapi ketiga anakku mengalami keterbelakangan mental. Hanya anak pertamaku yang normal. Saat ini aku tengah mengandung sembilan bulan lebih. Sebentar lagi mungkin anakku yang kelima segera mbrojol. Sampai saat ini pun suamiku tak tahu menahu kalau aku hamil. Berat badannku sekarang mencapai 80 kilogram, dikatakan gemuk juga tidak salah. Aku selalu memakai baju yang besar. Sehingga tak seorang pun tahu tentang kehamilanku ini. Bahkan suamiku pun tak ku beri tahu, apalagi para saudara atau pun tetangga. Dan mereka pun tak menaruh curiga sedikit pun. Selama hamil aku pun jarang sekali mengalami mual dan muntah seperti wanita hamil kebanyakan. Ini sudah kali kelima pengalaman bunting.
Aku pun terkadang merasa depresi. Ketiga anakku mengalami keterbelakangan mental. Idiot kata orang-orang. Anakku kedua sudah berusia 9 tahun, anak ketiga 5 tahun, anak keempat 3 tahun. Dan anakku yang pertama laki-laki berusia 15 tahun, hanya dia yang normal. Sehingga saat hamil anak yang kelima ini, aku benar-benar tidak menikmati. Aku takut, sangat takut jika calon bayi di rahim ini idiot lagi, bahkan terkadang aku takut tak mampu menghidupinya.
Anakku keempat bernama Kalisa. Aku beri nama Kalisa karena dulu dia lahir di sungai saat aku buang hajat. Kali dalam bahasa Jawa artinya sungai. Dia lahir begitu saja di sungai. Aku lahirkan sendiri tanpa bantuan dukun bayi, bidan ataupun dokter. Saat itu pukul setengah empat pagi, jadi tak ada orang wara wiri. Lagipula sungai itu hanya 200 meter dari rumah.
Rumahku amat sederhana. Hanya berlantai tanah dan berjendela gedeg. Tiada kursi dan meja tamu, hanya tikar sederhana untuk menemui tamu. Penghasilan suamiku sebagai buruh hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Saat itu jam dua malam. Aku terbangun. Calon bayiku terasa menendang-nendang keras seolah memaksa mbrojol. Kontraksi luar biasa tiba-tiba terjadi. Aku lihat suamiku masih tertidur pulas berselimutkan sarung hijaunya. Bingung mulai menyerang. Tak mungkin aku minta bantuan suami. Tak mungkin! Aduh, tapi rasanya ingin buang hajat. Perlahan aku tarik sarung hijau suamiku dan tanpa berpikir panjang, aku langsung mengayuh sepeda onthel tua-ku. Tak ada kendaraan berasap, seperti sepeda motor. Mobil apalagi, ah mimpi.
Aku kayuh sepeda onthel dengan sekuat tenaga yang tersisa menuju kali bengawan, kira-kira 700 meter dari rumah. Bayi dalam rahimku semakin lama semakin agresif. Ini benar-benar gila bagi orang normal. Mau melahirkan kok malah naik sepeda. Ini gila. Tapi memang benar aku sedang gila. Aku merasa aku bukan diriku. Bingung mulai menyusup menjalar ke seluruh tubuh.
Ngiikk...ngiikk...ngiikk... Ngiikk...ngiikk...ngiikk...
Suara sepeda onthel-ku terus mengkrinyet. Seolah dia protes menahan badanku yang berat ini. Tapi dia terus ku paksa. Dia ku kayuh terus. Kriyetan suara sepedaku seolah memecah keheningan malam sepanjang jalan desa. Suasana masih lengang. Sesekali angin malam berhembus menerpa wajahku yang kebingungan.
Satu menit kemudian terdengar suara gemericik air kali Bengawan. Di samping kanan kali itu ada sebuah gorong-gorong tak berair, hanya ada rumput-rumput kotor, dan sedikit lumpur yang berbau. Aku pun langsung masuk ke dalam gorong-gorong itu. Aku mulai merasakan darah mengalir perlahan menuju kaki. Keringat mulai berkucur ke segenap muka dan leher. Aku mulai merintih kesakitan. Aku teriak. Aaaargh....
Benar-benar sudah mbrojol! Aku melihat bayiku berlumuran darah, tangisnya pecah seketika. Aku tiba-tiba merasa jijik melihatnya. Aku merasa bayi mungil laki-laki itu bukan siapa-siapa. Dia bukan bayiku. Dia bukan anak kelimaku. Aku tak pantas merawat anak lagi. Aku tak becus. Ketiga anakku idiot. Aku tak mau, sungguh aku tak mau. Aku jijik.
Kedua mataku mulai menghangat. Kusaksikan sekelilingku. Masih lengang tak ada orang. Perlahan kumulai membungkus bayi itu dengan sarung hijau suamiku. Bayi itu kemudian perlahan terdiam dari tangisnya. Saat ku pegang badan bayi itu mulai agak dingin dan wajahnya pucat. Ah, lagi-lagi dia bukan bayiku! Tidak!
Suara adzan subuh mulai menggema. Ini berarti akan banyak orang-orang desa beraktivitas. Aku harus segera pergi. Biarlah bayi ini ku tinggal di sini. Karena dia bukan anakku. Sambil merasakan sakit yang amat sangat, aku paksa diri mengayuh sepeda lagi. Seharusnya aku dijahit, ah tapi tak menghiraukannya. Yang aku inginkan adalah segera sampai rumah dan tak ada orang yang melihat. Betapa sakitnya sebenarnya beberapa menit setelah melahirkan langsung dipaksa untuk bersepeda. Ini gila! Sesampai di rumah, suamiku dan anak-anakku masih tertidur. Aku berusaha berekspresi biasa-biasa saja dan seolah tak terjadi apa-apa agar mereka tak curiga. Aku pun langsung membuat sambal trasi untuk sarapan nanti.
**
Jam 6 pagi, desaku mulai digemparkan dengan penemuan bayi. Tetanggaku bernama bu Nani yang menemukan. Rumah bu Nani hanya berjarak lima rumah dari rumahku, masih satu RT. Aku mendengar berita itu dari suamiku. Bahkan suamiku ikut dalam kerumunan warga yang menyaksikan.
”Kasian sekali bayinya lo buk, masak tega sekali sih mbuang bayi. Bayinya laki-laki”, kata suamiku.
Aku hanya terdiam membisu. Kemudian menggerendeng dalam hati ”Itu anakmu pak...”
”Buk, kamu kok kelihatan pucat?”
Aku tak mau suamiku curiga. Senyumku mulai mengambang dan berkata ”Tak apa pak, aku tidur dulu ya pak. Mungkin cuma butuh istirahat. Kalau mau sarapan sambal trasinya sudah siap”. Aku pun masuk kamar.
Jam 9 pagi
”Sarung hijau bapak dimana?”, tanya anak pertamaku, Eko.
”Kenapa emang?”, jawab suamiku sambil keningnya mengkerut. Dan kemudian mencari sarung hijau di kamar. Aku pura-pura masih tertidur.
”Aku tadi habis dari rumah bu Nani. Di sana masih banyak orang. Bayi itu sekarang jadi rebutan pak. Banyak orang yang ingin merawatnya bahkan pak lurah juga. Tadi ada polisi dan beberapa wartawan datang. Tetanggga-tetangga desa semua mendatangi rumah bu Nani. Desa kita masuk koran pak! Terus...” Eko tiba-tiba terdiam.
”Ko...?”. Suamiku melongo dan heran.
”Sarung bapak nggak ada!”
”Tadi eko lihat sarung hijau bapak ada di rumah bu Nani. Katanya sarung itu yang dipakai buat membungkus bayi malang itu”
Suamiku dan Eko saling tatap heran.
Akhirnya bayi itu diangkat anak oleh pak lurah. Semua warga desa telah mengetahui bahwa bayi itu anakku. Aku sering mendengar pendapat miring tentangku. Kenapa tega sekali bu Sumiyem itu? Kenapa tidak diberikan kepada saudaranya? Kenapa bikin anak terus? Kenapa tidak KB? Kenapa sampai suaminya tidak tahu? Dan kenapa-kenapa yang lain. Aku pun juga tak tahu jawaban yang pasti kenapa. Seminggu kemudian pejabat tertinggi Kabupaten beserta segenap jajarannya mendatangi rumahku. Mereka memberikan santunan untuk keluarga dan anak-anakku. Sampai saat ini hatiku masih berkata ”Dia bukan bayiku”. Gila!
***








Tidak ada komentar:

Posting Komentar