Tampilkan postingan dengan label TANGGAPAN BERITA DAN ISU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TANGGAPAN BERITA DAN ISU. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 November 2012

Palestina: “Kami Tidak Akan Menyerah”

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive
                                                     
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Sumber gambar: yahoo.com


Sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Michael Heart, sebuah lirik yang indah untuk Gaza, yang berjudul “We Will Not Go down”. Berulang kali ku putar ulang terus siang ini. Hari Sabtu (17 Nopember 2012) adalah hari ke empat serangan Israel ke Palestina. Dan sampai saat ini masih berlangsung.


Banyak korban adalah wanita dan anak-anak. Tahukah sahabat bahwa anak-anak Palestina banyak yang sudah hafal AlQur’an? hal ini dianggap membahayakan bagi kaum zionis (yang dilaknat Alloh). Sungguh sebuah kehendak Sang Pencipta, sejak penyerangan zionis di bumi Palestina banyak wanita yang melahirkan bayi kembar laki-laki.

Sumber gambar: hminews.com

Alhamdulillah, tiap malam kita bisa tidur nyenyak  di atas kasur empuk bersama orang-orang tercinta kita. Betapa malam-malam anak-anak Palestina dihiasi dengan rasa takut dan cemas nyawa mereka terancam.

Alhamdulillah, tiap bepergian kita selalu merasa aman. Betapa anak-anak Palestina jauh dari rasa aman itu karena moncong senjata mengintai kepala mereka setiap saat.

Alhamdulillah, kita hidup di bumi Indonesia yang damai tanpa peperangan. Di tempat yang kita bisa membesarkan anak-anak kita tanpa ada rasa khawatir anak kita dibantai dan dibunuh.

Alhamdulillah, hal ini harus kita syukuri. Tapi…

Tahukah sahabat bahwa Indonesia berhutang budi pada bangsa Palestina?
Soekarno-Hatta baru saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi semua menyadari bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh-tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.

Awal dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir. Seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc.

Tak cukup hanya itu, saat bencana Merapi di Indonesia, Palestina membantu korban Merapi. Apakah kita hanya diam tanpa berbuat sedikitpun untuk membantu mereka?

Indonesia dan Palestina adalah saudara. Saya sangat kagum atas capaian-capaian yang telah dilakukan oleh orang-orang yang tergerak hatinya untuk membantu Palestina. Seperti didirikannya Rumah Sakit Indonesia di Palestina. Saya dengar dari sebuah berita di TV One, 100 meter dari Rumah sakit tersebut terkena serangan. Semoga Alloh SWT melindungi.

Lagi? Sebuah TK didirikan di Palestina. TK itu bernama TK Bintang AlQur’an. Anda bisa berkunjung ke sini http://sahabatalaqsha.com/tkdigaza/

DPR RI Akan Kirim Delegasi dan Bantuan Kemanusiaan ke Palestina. Insya Allah Aleg PKS dan beberapa anggota DPR akan berangkatkan delegasi ke Palestina sekitar akhir November atau awal Desember 2012 yang terdiri perwakilan Komisi I dan Group Kerjasama Bilateral Indonesia-Palestina DPR RI. Delegasi ini mungkin akan dipimpin langsung Ketua DPR RI, Pak Marzuki Alie. Harapan besar di hati ini, semoga Indonesia bisa mendukung keanggotaan Palestina di PBB dan mengalahkan hak veto AS yang menjadi sumber terorisme Negara seperti Israel. Semoga.


Berikut ini saya ambil sedikit bagian SURAT DARI SAUDARI MUSLIMAH PALESTINA yang bernama Jameela Qoudriya al assaff (Email from Palestine..Jameela@Yahoo.pal.com 19 nov 2012 22.11)

Teks aslinya:
…..
Sisters in faith ..
 We also believe that any strong Jewish army to expel us .. Army of God will always help us .. like the recent incident, soldiers killed by the Jews run and 20 horsemen dressed in white robes who use swords .. my eyes to see for myself where the time we have no power against the Jewish army,, that is where God help us ...
 ….

Teks terjemahannya:
…..
Saudariku seiman..
 Kamipun meyakini bahwa sekuat apapun tentara Yahudi ingin mengusir kami..Tentara Allah akan selalu membantu kami..seperti kejadian baru baru ini,,tentara yahudi lari dan terbunuh oleh 20 pasukan berkuda berpakaian Jubah putih yang menggunakan pedang..mataku melihat sendiri dimana saat itu kami tidak memiliki daya melawan tentara yahudi,,disitulah Allah membantu kami…
…..


Ijinkan saya meminjam kata-kata dari Khalid Misyal Pemimpin Politik Hamas saat konpres.

Kepada Penguasa Amerika dan Eropa, saya tidak paham mengapa kalian masih mengatakan Israel berhak membela diri.

Membela diri dari siapa? Bocah dan bayi-bayi Gaza?

Gaza dijajah dan penduduknya pemberani. Tidak ada yang kabur. Tidak ada ganti untuk Palestina kecuali Palestina.


Hamas bukan pengikut Suriah, bukan Iran, Mesir, Turki. Kami bukan pengikut siapapun. Kami punya penduduk Palestina. Hamas bukan pengikut Suriah, bukan Iran, Mesir, Turki. Kami bukan pengikut siapapun. Kami punya penduduk Palestina.

Saya merasakan kebanggaan dan izzah atas perlawanan ini.

Sumber gambar: republika.co.id

Saya tutup posting ini dengan  sebuah lirik nasyid “Untukmu Palestin” dari Raihan.

Berdzikir dengan nama tuhanmu
 Bermunajatlah di tengah malam
 Bertaubatlah padanya penuh rasa hamba
 Agar doa kita di.. makbulkan
 Agar Palestina kita genggam semula
 Agar Palestin bebas di tangan kita
 Kembali damai disirami air

 Kebenaran Al-Quran dan sunnah
 Palestina kan dimiliki lagi
 Ingatlah Allah dan hindarkan dosa
 Palestin kan aman lagi
 Dengan ketaatan dan amalan soleh

 Palestine you will regain your land
 Remember Allah and stay away from sin
 Palestine will be at peace again
 And filled with the worship of Allah

 Dengan kata dan ketaqwaan
 Pada Allah yang maha kuasa
 Ketakutan dan kelemahan
 Peluru dan dentuman
 Bukan lagi penghalang
 Pembelaan Allah akan datang
 Palestin... Palestin... Palestin
 Palestin... Palestin... Pa...lestin


Mari berbuat sesuatu kawan, sekecil apapun itu, lakukanlah untuk kemerdekaan Palestina. Viva Palestina!




                                                                                         

Rabu, 19 September 2012

Prestasiku Meningkat Karena Rohis


Sebuah pengakuan dari seorang alumni Rohis
Sumber gambar: salam-online.com

Sekedar bercerita. Tahun 2001 aku mulai mengenakan seragam putih abu-abu. Aku masuk di sebuah sekolah “Mewah” (Mepet Sawah), ya, begitulah mereka menyebutnya. Karena memang sekolah ku mepet sama sawah. Bahkan di halaman depan sekolah masih terdapat beberapa petak sawah. Sekolah itu adalah SMAN Kebakkramat, ya cuma SMAN Kebakkramat, bukan SMAN 1 (satu) Kebakkramat. Karena sekolah itu hanya satu-satunya sekolah SMA Negeri di kecamatan Kebakkramat.

Saat tahun aku masuk dulu, ada yang namanya “kelas khusus”, sebuah kelas yang disiapkan untuk mereka yang mempunyai NEM SMP yang tergolong tinggi. Entah waktu itu aku kebetulan masuk di kelas I 7 (katanya juga termasuk dalam kelas khusus). Kemudian aku mulai kenal dengan Rohis lewat kakak-kakak kelas yang ku anggap luar biasa bagiku (kala itu). Kelas 1 aku hanya masuk sebagai anggota. Aku mulai ikut serta dalam kegiatan-kegiatan Rohis. Entah kenapa aku mulai merasa nyaman berada di sana dan berinteraksi dengan orang-orang di dalamnya.

Beranjak di kelas 2 , aku mulai masuk dalam jajaran pengurus. Aku sering dilibatkan sebagai mentor untuk adik-adik kelas 1 oleh kakak-kakak kelas. Sangat ingat kala itu , angkatan ku ini menoreh sebuah prestasi Rohis, yaitu diterbitkannya sebuah buletin, yang kami beri nama AN-NABA’. Aku begitu terkesan dengan semua itu. Aku dulu rajin menyimpan setiap edisi yang terbit. Apalagi edisi saat karya-karyaku yang dimuat, buletin itu rasanya sangat berharga sekali di mataku.

Beranjak kelas 3, aku juga masih aktif. Aku sering terlibat komunikasi dengan para guru yang terkait dengan Rohis. Kala itu pak Mansur dan pak Triono, semoga mereka masih ingat dengan ku dan semoga Alloh SWT senantiasa melindungi mereka.

Sungguh hanya kebaikan yang ku rasa selama berada dalam komunitas Rohis. Bahkan karena Rohis masa-masa SMA ku dulu terasa sangat berkesan. AKU TAK PERNAH DIAJARI BUAT BOM, AKU TAK PERNAH DIAJARI MEMBUAT RESAH, AKU TAK PERNAH DIAJARI CARA MENEROR, AKU JUGA TAK PERNAH DIAJARI BERBUAT ANARKIS, AKU JUGA TAK PERNAH DIBENTUK MENJADI TERORIS MUDA, TAK PERNAH ADA KEGIATAN YANG MENYESATKAN, TAK PERNAH!

Satu hal yang kadang membuatku menitikkan air mata karena haru, dan hal itu baru ku sadari saat sudah duduk semester 1 di bangku kuliah,  AKU SEMAKIN  AKTIF DI ROHIS PRESTASIKU TERNYATA SEMAKIN MENINGKAT. Saat itu aku coba flashback menengok rapor dari kelas 1 sampai kelas 3 SMA. Kelas 1 aku hanya masuk 10 besar, kelas 2 masuk 5 besar, dan kelas 3 masuk 3 besar. Aku sempat lemas sejenak saat menyadari hal itu, akhirnya ku cari sebab dari semua itu. Adalah tingkat keaktifanku di Rohis berbanding lurus dengan prestasi akademik. Semakin aktif ternyata semakin meningkat. Faktor belajar? Iya, saya belajar. Belajar sebagai bentuk ihktiar. Tapi aku meyakini bila menolong agama ternyata Alloh memudahkan dengan memberi kemudahan dan pertolongan. SAMA SEKALI ROHIS TIDAK MENGANGGU AKTIVITAS BELAJARKU, JUSTRU MEMBANTU.

Aku anak Rohis, bukan teroris ^^




Rabu, 15 Agustus 2012

“PKS Mendingan Bubar Aja Deh…”

Bismillahirrahmanirrahim…


Kita berbicara tentang sebuah partai politik di Indonesia kali ini, bukan Partai Demokrat sang pemenang pemilu 2009 atau pun Golkar pemenang pemilu 2004 atau PDIP pemenang pemilu tahun 1999, partai ini belum pernah menjadi pemenang pemilu, prestasi terbaiknya “hanya” menduduki peringkat ke-4 di Pemilu 2009 dan belum berhasil mencapai target suara yang telah dicanangkan, yaitu 20 juta suara di Pemilu 2009.

Partai itu adalah Partai Keadilan Sejahtera atau PKS. Partai yang didirikan di Jakarta pada hari Sabtu, tanggal 9 Jumadil ‘Ula 1423 bertepatan dengan 20 April 2002. PKS adalah kelanjutan dari Partai Keadilan yang didirikan pada hari Senin, tanggal 26 Rabi’ul Awwal 1419 bertepatan dengan 20 Juli 1998.

Partai yang sudah melahirkan banyak tokoh dalam blantika politik Indonesia, seperti Nurmahmudi Ismail (mantan menteri Kehutanan dan sekarang Walikota Depok), Hidayat Nur Wahid (mantan ketua MPR) Tifatul Sembiring (Menkominfo), Gatot Pudjo Nugroho (Plt. Gubernur Sumatera Utara), Ahmad Heryawan (Gubernur Jawa Barat), Irwan Prayitno (Gubernur Sumatera Barat), Sa’aduddin (Bupati Bekasi) dan tokoh lainnya. Partai ini pun banyak menghasilkan politisi muda yang cerdas, seperti Anis Matta, Fahri Hamzah, Andi Rahmat, Mahfudz Sidiq, Nasir Djamil, Mustafa Kamal dan politisi muda lainnya. Barisan wanitanya pun tak kalah hebat terlahir dari Partai ini, seperti Yoyoh Yusroh, Nursanita Naustion, Ledya Hanifa serta lainnya. Bukan di bidang politik saja, Partai ini pun banyak menelurkan para sastrawan hebat seperti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, M. Yulius dan lain-lain.

Tapi bukan kehebatannya yang akan kita bicarakan saat ini. Ini masalah nasib PKS saat ini yang terasa “memprihatinkan”. Lihat saja beberapa bulan lalu mereka dikejutkan dengan manuver dari mantan pendiri mereka, sang Presiden PKS dikatakan sebagai mantan mujahidin Afghanistan yang membuat para pemilih PKS yang tidak terlalu “ekstrem” dalam masalah jihad memikirkan ulang untuk memilih PKS karena takutnya PKS punya “hidden agenda” untuk Indonesia. Lalu sang Presiden dilaporkan ke BK DPR-RI karena menerima uang dari Jusuf Kalla yang sudah dibantah sendiri oleh JK. Sang pelapor tidak membawa bukti apa-apa, selain “katanya”. Sekjennya pun dilaporkan ke KPK terkait dugaan penggelapan dana yang sudah di-clearkan juga karena jumlahnya berbeda dengan yang diaudit KPUD DKI kala itu. Belum lagi masalah 3 petingginya yang poligami, lalu laporan ke polisi tentang presidennya dan polisi menolak laporan tersebut. Semua ini jelas terlihat bahwa memang PKS saat ini sedang memprihatinkan.

Lihat saja, mana ada liputan tentang pekerjaan para kadernya di tingkat grassroot, adakah liputan tentang Forsitma (Forum Silaturahmi Majelis Ta’lim) atau liputan bahwa kader-kader partainya selalu mengadakan bakti sosial di tiap 2 bulan?? Tidak ada, yang ada paling hanya cibiran bahwa mendekati majelis ta’lim karena ingin suara, “mengadakan baksos kok pake cerita-cerita, itu riya namanya”. Apalagi yang dibutuhkan masyarakat sekarang bukan ikan tapi pancing, baksos cuma buat masyarakat jadi manja tidak mau bekerja, semua ini PKS-lah penyebabnya!!!

Ketika RATUSAN RIBU kadernya turun ke jalan untuk menyuarakan keadilan untuk sesama di belahan bumi lainnya, media pun melakukan korupsi berita, paling hanya ditulis ratusan atau ribuan, dan komentar yang akan muncul hanya “PKS selalu membuat sulit warga Jakarta dengan demonya, buat macet aja!!!” semua ini PKS-lah penyebabnya!!!

Tak pernah ada juga liputan tentang kader-kadernya yang berjasa, mereka lupa perda larangan merokok lahir dari para anggota DPRD dari PKS, kenaikan gaji PNS dan Tunjangan Kinerja Daerah untuk PNS DKI pun lahir dari tangan-tangan mereka, yang ada hanya “larangan merokok melanggar hak manusia dan menaikkan tunjangan PNS hanya membuat sembako tambah melambung” semua ini PKS-lah penyebabnya!!

Bukan hanya dari kalangan external, dari kalangan umat Islam pun PKS seperti “pesakitan” mereka dianggap berdakwah dengan cara yang haram, demokrasi itu haram!!! Karena mayoritas ulama mengatakan itu (yang ketika ditanyakan siapa saja ulamanya, tidak pernah dijawab) padahal ini hanya masalah khilafiyah saja. PKS juga dianggap telah keluar dari ciri khas dakwah mereka, semuanya sekarang berjas dan naik mobil mewah, “biasanya tuh PKS jalan kaki, masak sekarang naik mobil, gak militan!!” Sudah keluar dari khithahnya, karena para petinggi nya sudah hubbuddunya (cinta dunia) maka para umat Islam hari ini pun semakin banyak yang mengejar dunia, semakin banyak membuat usaha biar dapat penghasilan yang banyak… semua ini PKS-lah penyebabnya!!!

Ketika berita keburukan mereka ada di suatu media, lihatlah link-link lainnya tentang berita itu, banyak sekali, jika kita buka satu persatu, inti pemberitaannya sama, cuma judulnya saja. Media sedang menggiring pembaca mau baca berita yang mana saja, media sedang menghidangkan para pembaca judul yang berbeda, terserah mau baca yang mana intinya PKS buruk citranya.

Kalian pasti pernah dengan berita bahwa anggota dewan PKS tertanggap main judi kan?? Pasti, karena berita itu dimuat di semua media. Tapi tahukah kalian bahwa anggota dewannya sudah dipecat?? Tahukah Anda bahwa anggota dewan tersebut berasal dari eksternal PKS? Yang dirangkul untuk memastikan bawah PKS memang partai terbuka?? Hhmm sepertinya itu bukan berita yang bagus buat media, kecuali beberapa saja. Karena “bad news tentang PKS” adalah “good news” untuk media.

Sekarang posisi mereka serba salah, ketika era tanzhimi dulu, kader PKS dikatakan eksklusif, tidak membaur dan ini tidak akan memuluskan dakwahnya, karena Islam itu rahmatan lil alamin, tidak tersekat, semua harus bisa menerima manfaat dari Islam, karena Islam bukan hanya untuk kader saja tapi untuk seluruh lapisan masyarakat. Tapi ketika PKS memproklamasikan bahwa mereka adalah partai terbuka, siapa saja boleh jadi anggotanya (bukan hanya kader) mereka pun dicaci, menghalalkan segala cara untuk dapat suara, berteman dengan kafir bahkan ada yang mengatakan semuanya akan masuk neraka (kayak neraka punya dia aja).

PKS, oh PKS, kasihan sekali nasib kalian, apapun yang kalian lakukan akan ada penentangnya, mending mundur sajalah, bubarkan partainya, kan enak tidak perlu mendengar cibiran banyak orang? Jangan nekad deh PKS. Ada bom buku di Utan Kayu aja, kalian kena getahnya. Jangan-jangan ketika misalkan kader kalian menjadi presiden suatu saat nanti, akan ada kudeta berdarah dari masyarakat, karena kalian tidak pernah disuka.

Tapi, ya kalau kalian tetap nekad, tetap kuat dengan cibiran semua pihak, tetap kokoh strukturnya, tetap membaca Qur’an walau buat acara di hotel, tetap membina ribuan halaqah yang di dalamnya membicarakan kebaikan, tetap banyak mendirikan sekolah islam terpadu dan pesantren-pesantren tahfizh, tetap kuat bekerja di grassroots, membina majelis ta’lim, membina pengajian kantoran, pengajian karang taruna, membina banyak majelis ta’lim membina rohis-rohis sekolah dan LDK kampus, ya sudah, saya tidak bisa banyak berkata, kau teruskan saja apa yang selama ini sudah kau lakukan, wahai PKS.

Dan izinkan aku ada di dalam barisan kalian, seraya meneriakkan takbir dan berkata “bekerja untuk Indonesia adalah ibadah”.

Fuad Aris. Sumber: www.dakwatuna.com


Senin, 06 Agustus 2012

AKU INGIN PALESTINA TERSENYUM KEMBALI

Saat menjelang buka puasa kemarin berkelabat dalam benak saya sejenak tentang Palestina. Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah berita tentang perkembangan Palestina. Tahukah sahabat? Ternyata di bulan Ramadhan ini para tahanan Palestina dipaksa puasa 20 jam. Dan tak jarang makanan sudah mulai basi tidak bisa buat sahur.

Sahabat, saat Somalia kelaparan, Rohingnya tertindas, duka Palestina masih tersisa, alangkah bijaknya di bulan Ramadhan ini kita bersama menyelipkan doa-doa untuk mereka. Dan berbuatlah lebih banyak bagi sahabat yang punya kekuasaan dan wewenang mengenai hal tersebut. Berikut ini adalah foto-foto sejarah tahun 2009 lalu. Foto-foto ini saya ambil dari detik foto tertanggal Senin, 05/01/2009 18:44 WIB

Serangan yang dilancarkan oleh Israel melaluli darat, laut dan udara mengakibatkan penderitaan bagi anak-anak Palestina, Senin (05/01). Mereka meregang nyawa akibat serangan tentara Israel.

Tiga anak kecil tewas akibat agresi Israel yang dilancarkan di Jalur Gaza. Foto: Reuters/Suhaib Salem.


Seorang anak kecil menangis kesakitan saat diperiksa oleh tim medis. Foto: Reuters/Suhaib Salem.

Dua orang dokter sedang menggendong balita yang tewas akibat agresi Israel yang menggempur Jalur Gaza. Foto: Reuters/Suhaib Salem.


Seorang bayi menangis menahan sakit akibat serangan tank-tank Israel. Foto: Reuters/Suhaib Salem.

Inilah putra-putri bangsa Indonesia melantunkan doa untuk mereka, sudahkah kita melakukannya?
Siswa-siswi Sekolah Dasar dari Indonesia berdoa bersama untuk anak-anak Palestina yang menjaadi korban tentara Israel. Foto: Reuters/Sigit Pamungkas.


Tidakkah kita menginginkan keceriaan seperti ini didapatkan oleh semua anak Palestina dan semua anak di dunia?

Sumber: unilevergreenandclean.co.id

Anak-anak punya banyak hak. Mereka berhak mendapatkan kasih sayang bukan penderitaan, mereka berhak mendapatkan keceriaan bukan kemuraman, mereka berhak mendapatkan kebahagiaan bukan kesedihan. Harapan saya adalah “Aku ingin Palestina tersenyum kembali…”
















Kamis, 26 Juli 2012

Derita Muslim Rohingnya di Negeri Para Biksu


Myanmar adalah salah satu Negara di kawasan Asia Tenggara yang terdiri dari banyak etnik. Negara yang berbatasan dengan Thailand dan Bangladesh ini dihuni oleh mayoritas pemeluk Budha sebagaimana di Thailand. Hanya sedikit penduduk muslim, sekitar 4% yang terkumpul di Negara bagian Rakhine atau Arakan dan dikenal dengan komunitas muslim Rohingnya. Mirisnya, yang minoritas ini selalu menjadi bulan-bulanan Penguasa atau kelompok sipil mayoritas.

Sejak Myanmar diberi kemerdekaan oleh penjajajah Inggris, tercatat seringkali terjadi konflik berdarah di negeri itu. Apalagi ketika pemerintahannya dipegang oleh Junta Militer. Maka, rakyat sipil yang sebagian besar beragama Budha itu tidak setuju dan berulangkali mengadakan aksi damai menentang kekejaman rezim militer. Tercatat bentrokan besar itu terjadi sepanjang tahun dan beberapa kali mengalami ledakan aksi masa.

Maka, dari gerakan itu muncullah seorang tokoh wanita yang diklaim dan dinobatkan sebagai peraih nobel perdamaian lantaran mendukung perjuangan Demokrasi dan Hak Asasi manusia. Adalah Aung San Suu Kyi. Ia dan partainya berhasil memenangi pemilu dengan meraup 82% suara rakyat Myanmar. Meski demikian, kemenangan rakyat itu dianulir oleh Junta Militer sehingga penindasan di Negara tersebut terus terjadi, tanpa jeda lama. Bahkan, berdasarkan beberapa sumber, kekerasan yang terjadi secara sistemik terhadap kalangan minoritas Muslim bersebab adanya maksud pemusnahan generasi.

Terkait mengapa warga minoritas menjadi korban pembantaian, ada banyak sumber yang beredar. Dimulai dari pemaksaan agar warga muslim keluar dari agamanya, sampai kepada isu bahwa komunitas muslim bukanlah warga asli Myanmar.

Secara fisik, warga Rohingnya memang lebih mirip dengan penduduk Bangladesh atau India. Berperawakan tinggi, kulit hitam, hidung mancung. Berbeda dengan kebanyakan warga Myanmar yang bertubuh kecil, kulit putih dan mata agak sipit. Tak heran jika kemudian Presiden Myanmar, Thien Sein, mengklaim bahwa Muslim Rohingnya bukanlah warga asli Myanmar dan harus diungsikan ke kamp-kamp pengungsian untuk dirawat oleh PBB. Semntara itu, sekjen PBB secara tegas mengatakan bahwa warga Rohingnya adalah warga Myanmar dan merupakan komunitas yang mengalami penindasan etnik paling mengenaskan sepanjang sejarah di seluruh dunia.

Bentuk Penindasan

Awal juni lalu, kita dibuat terhenyak dengan berita yang disampaikan oleh salah seorang ustadz yang bergiat dalam aneka aksi solidaritas muslim di seluruh dunia. Sang ustadz menuturkan bahwa beliau menerima kabar dari koleganya tentang pembantaian yang kembali dialami oleh saudara kita di Rohingnya. Pembantaian bertahap itu terjadi sebanyak tiga kali sepanjang bulan itu dengan korban antara 200 sd 700 Muslim yang insya Allah Syahid. (Lihat lebih lanjut: http://chirpstory.com/li/10160)

Pembantaian ini bermula dari adanya kabar burung bahwa salah satu warga Rohingnya melakukan pemerkosaan terhadap wanita Budha. Akhirnya, warga mayoritas yang diliputi bara dendam melakukan aksi dengan melakukan pembantaian membabi buta. Membakar masjid, rumah pendduduk beserta seluruh warganya dihabisi tanpa ampun.

Pembantaian ini memnag sudah direncanakan. Sejumlah pelaku sengaja melakukan makar dengan membakar pemukiman penduduk. Sedangkan sebagian lainnya berjaga di sekeliling kampung dengan senjata lengkap berupa pedang sepanjang satu meter dan aneka alat perang manual lainnya. Maka, warga yang rumahnya dibakar itu secara otomatis berlari keluar kampung untuk menyelamatkan diri beserta seluruh anggota keluarganya. Ironisnya, ketika keluar disinyalir sebagai salah satu cara menyelamatkan diri, di sana mereka malah menemui Izrail lantaran sudah ditunggu oleh para algojo bengis yang tengah berjaga-jaga. Inna lillahi wa inna ilahi roji’un.

Parahnya, warga Muslim yang didapati melaksanakan sholat berjama’ah di masjid-masjid mereka langsung dibunuh di tempat oleh pihak militer maupun warga mayoritas. Mari sejenak berfikir, di sana saudara kita ini harus menukar sholat berjama’ah dengan nyawa mereka yang hanya satu itu. Sementara kita, dengan senang hati, tanpa merasa bersalah, berdalih aneka rupa hanya karena malas untuk berjama’ah di masjid. Apa kira-kira alasan yang akan kita kemukakan di hadapan Allah jika kelak kita ditanyai tentang hal ini?

Hijrah

Ketika Rasulullah dan Para Sahabat diblokade, maka Allah memerintahkan mereka untuk berhijrah sebagai salah satu strategi jitu. Terbukti, selepas hijrah, kaum muslimin berhasil menunjukan taring kesantunannya dan kemudian kembali ke Mekkah dengan gagah perkasa, tanpa pertumpahan darah, setetespun.

Demikian pula strategi yang diterapkan oleh komunitas Muslim Rohingnya. Secara bertahap mereka melakuan hijrah laut dengan perahu kecil dari kayu yang berkapasitas antara 100 sd 200 orang per perahu. Tentunya over kapasitas, tapi lantaran penjagaan Allah, tak pernah sekalipun ditemui kapal ini oleng lantaran perjalanan jauh.

Bangladesh adalah Negara yang dijadian sebagai tujuan utama untuk berhijrah. Disamping dekat, bentuk fisik warga Muslim Rohingnya ini memang mempunyai kemiripan dengan warga Bangladesh. Mungkin saja, karena kesamaan fisik dan kesamaan agama ini, menurut pemikiran warga rohingnya, warga Bangladesh akan menerima mereka dengan lapang dada seperti halnya Anshor menerima Muhajirin kala itu.

Sayangnya, asumsi tak terbukti. Meski sama muslimnya dan sama cirri fisiknya, polisi pantai dan sebagian warga Bangladesh tak mau menerima warga Rohingnya lantaran takut dengan Junta Militer Myanmar. Maka, Muhajirin Myanmar itu hanya dikumpulkan di tepi pantai, sambil telanjang dada, hanya bersarung ala kadarnya dan dijemur diterik pantai yang tak terperih. Tanpa jeda lama, mereka langsung disuruh kembali ke Negerinya dengan menaiki kapal yang sama dengan sedikit belas kasih : sebotol air minum dan beras untuk bekal perjalanan.

Jangan bayangkan bahwa beras itu akan dimasak sebelum dimakan. Karena di dalam perahu yang kelebihan penumpang itu, tidak terdapat alat untuk memasak. Maka dipastikan bahwa Saudara Muslim kita itu memakan beras mentah sepanjang perjalanan laut. Sementara itu, di belahan bumi lain, kita sedang sibuk mencela makanan yang tak enak secara nafsu, bahkan ada diantara kita yang tengah memilih aneka makanan lezat di restauran mahal di negeri hijau bernama Indonesia. Miris. Katanya, semuslim itu satu tubuh. Tapi, kita terbahak saat mereka merintih, menjerit dalam kesusahan. Inilah fakta.

Setelah diusir dari Bangladesh, tak mungkin mereka kembali ke negerinya. Karena di negerinya itu mereka hanya akan menemuai ajal dengan cara yang sangat mengenaskan. Maka, terkatunglah perahu kayu itu di tengah samudera. Atas ijin Alah, perahu itu ada yang kemudian sampai di ujung Thailand dan sebagiannya berhasil mendarat di Aceh dengan keadaan lunglai bagai tak bernyawa.

Cerita ini masih terjadi hingga sekarang. Jika kita mau membuka mata, maka sebenarnya pemerintah Junta Militer dan kaum mayoritas sengaja merawat konflik ini hingga sekarang. Bahkan, ketika peristiwa pembantaian terjadi, di tempat kejadian terdapat polisi yang asik menonton kaum mayoritas sedang menganiaya kaum minoritas dengan peralatan perang manualnya.

Dimanakah Kita?

Hingga saat ini, pembantaian itu masih terjadi dengan berbagai skalanya. Besar ataupun kecil. Dan, dunia, diam. Amerika, diam. PBB, bisu. Lantas, Dimanakah kita? Apa yang harus kita lakukan?

Islam adalah agama yang paling menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa orang yang beriman adalah bersaudara. Dalam hadits nabi juga disebutkan bahwa orang mukmin itu bagaikan satu tubuh. Jika ada anggota tubuh yang terluka atau tersakiti, maka anggota tubuh yang lain akan mengalami sakit serupa.

Maka, persaudaraan dalam konsep islam tidak terbatas wilayah. Apalagi sekedar wilayah teritorial seperti batas desa, kota, kabupaten atau negara. Persaudaraan Islam, batasnya adalah Aqidah. Dimanapun beradanya, ketika Robbnya adalah Allah dan Rasulnya adalah Muhammad, maka kita wajib untuk membantunya karena mereka adalah saudara seaqidah kita. Tak peduli mereka berada di luar daerah atau luar negeri sekalipun. Karena nasionalisme buta adalah produk dagangan musuh Islam yang hendak mencerai-beraikan kekuatan kamu muslimin.

Sederhananya, mari membayangkan! Apa kiranya perasaan kita ketika yang dibakar adalah rumah kita? Apa yang kita rasakan bila yang berada di dalam kapal yang terkatung-katung di tengah samudera itu adalah kita, anak kita dan saudara kandung kita? Bagaimana jika yang dibunuh adalah Ibu kita? Bibi, Paman, Keponakan, Sepupu atau Saudara Kandung kita? Bagaimana jika yang diperkosa adalah adik kita yang baru akan mekar? Atau, istri yang barus aja kita nikahi? Dan anak-anak yang meregang nyawa itu adalah anak kandung kita yang telah ditunggu kehadirannya sejak lama? Mungkinkah kita berdiam diri dan berkata pongah,” Buat apa mengurusi mereka yang jauh? Yang dekat saja masih banyak?” Jika masih saja berkata demikian, semoga saja Allah mengganti hati kita dengan hati yang lain. Kerena berdasarkan riwayat Imam Atb Thabrani disebutkan, “siapa saja yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin, maka ia bukan golonganku (nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam).

Mari, lakukan sesuatu sebisa kita. Doakan mereka disetiap waktu. Agar Allah menolong para Mujahidin dan saudara muslim kita di Rohingnya, Suriah, Palestina, Moro, Pattani, dan di daerah-daerah lain. Semoga Allah menguatkan mereka dan memasukkan kita ke dalam golongan mereka. Golongan yang berperang di jalan Allah, kemudian mereka membunuh atau terbunuh, Karena balasan bagi mereka adalah surga yang lebih luas dari langit dan bumi.

Lalu, sebarkan berita yang benar. Berita yang berasal dari sumber aslinya. Bukan berita olahan kaum kafir atau media kafir lainnya. Sebarkan kepada khalayak, dan biarkan nurani mereka menilai, mana yang lebih dekat dengan kebenaran.

Jangan lupa untuk mengalokasikan harta kita. Ingat! Bukan pemberian. Melainkan saham! Ya, tanamkan Saham Jihad kita untuk saudara-saudara kita yang teraniaya itu. Alokasikan sebanyak-banyaknya, sesuai kapasitas kita. Karena Allah akan mengganti dengan kelipatan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Tanamkan saham itu secepatnya, sebelum Allah menarik karunia harta itu lantaran tidak digunakan sebagaimana mestinya.

Dan, jangan lupa untuk mempersiapkan diri. Karena perjuangan, dimulai dari sekarang. Jika kita tidak terlibat dalam aksi kebaikan, maka secara otomatis, kita tengah berada dalam proyek keburukan, disadari atau tidak, besar atau kecil skalanya.

Akhirnya, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan menguatkan kita untuk terus berjuang meninggikan kalimatNya. Karena kemenangan itu Janji Allah yang pasti terwujud, cepat atau lambat, dengan atau tanpa kita.


Diambil dari http://fimadani.com







Rabu, 25 Juli 2012

Save Muslim Rohingnya di Myanmar

Di tengah-tengah kesibukan saya menyelesaikan sebuah buku dan mengedit puluhan naskah, saya benar-benar tersentak dan secara tak sadar menangis di depan komputer kerja yang terbuka berbagai situs web. Saya tidak tahu tiba-tiba saja menangis dan memaksa saya untuk menuliskan semua ini pada blog pribadi saya. Saya membaca websitenya fimadi, detik, dan sebagainya. Saya benar-benar sakit hati saat melihat saudara-saudara semuslim saya di Burma diberlakukan tidak adil. Mereka mendapat kejahatan kemanusiaan, pemaksaan keyakinan, dan berbagai penderitaan yang lain. Hanya karena mereka beragama Islam mereka diperlakukan dengan keji. Sangat tidak adil dan sangat tidak manusiawi!

Saya sangat meyakini muslim di seluruh dunia ini adalah satu tubuh. Jika ada bagian yang sakit, maka semuanya akan terasa sakit. Muslim Rohingnya di Myanmar adalah bagian dari muslim dunia, mereka adalah bagian tubuh yang sedang sakit. Dan seharusnya kita juga merasakan sakit.

Saya sangat setuju saat KAMMI dan MUI mengutuk keras tindakan tersebut. Saya juga mengutuk keras. Demi Alloh, itu adalah kejahatan kemanusiaan, bagi saya hal itu adalah penjajahan. Negara Indonesia dalam pembukaan UUD 1945 mencantumkan penjajahan di dunia harus dihapuskan. Seharusnya pemerintah Indonesia segara bertindak membantu, semoga ada ikhtiar-ikhtiar yang baik untuk membantu saudara-saudara muslim Rohingnya. Semoga.

Sahabat, benar adanya dalam Q.S Al-Hajj ayat 40, Alloh SWT berfirman, yang artinya:

“(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”

Inilah yang dialami saudara-saudara muslim Rohingnya di Myanmar. Ya Rabb, lindungilah mereka yang mempertahankan agama Islam, berilah kemenangan terhadap mereka.


Berikut kutipan-kutipan yang saya baca dari fimadani tertanggal 12 June 2012 3:17 pm.
Populasi Muslim Rohingya di Myanmar tercatat sekitar 4,0 persen atau hanya sekitar 1,7 juta jiwa dari total jumlah penduduk negara tersebut yang mencapai 42,7 juta jiwa. Jumlah ini menurun drastis dari catatan pada dokumen Images Asia: Report On The Situation For Muslims In Burma pada Mei tahun 1997. Dalam laporan tersebut, jumlah umat Muslim di Burma mendekati angka 7 juta jiwa.

“Kami meninggalkan Myanmar karena kami diperlakukan dengan kejam oleh militer. Umat Muslim di sana kalau tidak dibunuh, mereka disiksa,” ujar seorang pengungsi, Nur Alam, seperti dikutip BBC, beberapa waktu lalu.

Nur bersama 129 Muslim Rohingya begitu umat Islam yang tinggal di utara Arakan, Myanmar, biasa disebut terpaksa harus meninggalkan tanah kelahirannya.

Ia bersama kawan-kawannya nekat melarikan diri dari Myanmar dengan menumpang perahu tradisional sepanjang 14 meter. Mereka berjejalan di atas perahu kayu dengan bekal seadanya. Akibat mesin perahu yang mereka tumpangi rusak, Muslim Rohingya pun harus rela terkatung-katung di lautan yang ganas.

Hingga akhirnya, mereka ditemukan nelayan Aceh dalam kondisi yang mengenaskan. Menurut Nur, mereka terombang-ambing ombak di lautan ganas selama 20 hari. Kami ingin pergi ke Indonesia, Malaysia, atau negara lain yang mau menerima kami, tutur Nur. Demi menyelamatkan diri dan akidah, mereka rela kelaparan dan kehausan di tengah lautan.


Gambar ini saya ambil dari http://www.facebook.com/die.for.islam?ref=stream


Begitulah potret buram kuam Muslim Rohingya yang tinggal di bagian utara Arakan atau negara bagian Rakhine. Kawasan yang dihuni umat Islam itu tercatat sebagai yang termiskin dan terisolasi dari negara Myanmar atau Burma. Daerah itu berbatasan dengan Bangladesh.

Sejak 1982, Undang-Undang Kewarganegaraan Burma tak mengakui Muslim Rohingya sebagai warga negara Myanmar. Pemerintah di negara itu hanya menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh atau keturunannya. Terjebak dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan seperti itu, kaum Rohingya pun memilih untuk meninggalkan Myanmar.

Tak mudah bagi mereka untuk melepaskan diri dari negara yang dikuasai Junta Militer itu. Tak jarang mereka harus mengalami kekerasan dan penyiksaan oleh pihak keamanan. Setelah mereka keluar dari negara tersebut, mereka tidak diperkenankan untuk kembali.

Selain itu, umat muslim Rohingya seperti terpenjara di tempat kelahirannya sendiri. Mereka tidak bisa bebas bepergian ke mana pun. Meskipun hanya ingin ke kota tetangga saja, pihak militer selalu meminta surat resmi. Saat ini, sekitar 200 ribu Muslim Rohingnya terpaksa tinggal di kamp pengungsi seadanya di Bangladesh.

Sebagian besar dari mereka yang tidak tinggal di tempat pengungsian resmi memilih untuk pergi ke negara lain melalui jalur laut, terutama melalui Laut Andaman. Kemudian, pihak Pemerintah Thailand juga mengabarkan bahwa mereka telah menahan sebanyak 100 orang Rohingya beberapa waktu yang lalu.

Pemerintah negeri Gajah Putih itu menolak menerima mereka sebagai pengungsi. Untuk mengatasi masalah ini, PBB sudah bergerak melalui salah satu organisasinya yang mengurusi pengungsi, UNHCR.


Mereka kebanyakan datang dari India pada masa kolonial Inggris di Myanmar. Sepeninggal Inggris, gerakan antikolonialisasi di Burma berusaha menyingkirkan orang-orang dari etnis India itu, termasuk mereka yang memeluk agama Islam. Bahkan, umat Muslim di Burma sering sekali menjadi korban diskriminasi.

Pada tahun 1978 dan 1991, pihak militer Burma meluncurkan operasi khusus untuk melenyapkan pimpinan umat Islam di Arakan. Operasi tersebut memicu terjadinya eksodus besar-besaran dari kaum Rohingya ke Bangladesh. Dalam operasi khusus itu, militer tak segan-segan menggunakan kekerasan yang cenderung melanggar hak asasi manusia.

Selain itu, State Law and Order Restoration Council (SLORC) yang merupakan rezim baru di Myanmar selalu berusaha untuk memicu adanya konflik rasial dan agama. Tujuannya untuk memecah belah populasi sehingga rezim tersebut tetap bisa menguasai ranah politik dan ekonomi.

Pada 1988, SLORC memprovokasi terjadinya pergolakan anti-Muslim di Taunggyi dan Prome. Lalu, pada Mei 1996, karya tulis bernada anti-Muslim yang diyakini ditulis oleh SLORC tersebar di empat kota di negara bagian Shan. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya kekerasan terhadap kaum Muslim.

Kemudian, pada September 1996, SLORC menghancurkan masjid berusia 600 tahun di negara bagian Arakan dan menggunakan reruntuhannnya untuk mengaspal jalan yang menghubungkan markas militer baru daerah tersebut. Sepanjang Februari hingga Maret 1997, SLORC juga memprovokasi terjadinya gerakan anti-Muslim di negara bagian Karen.

Sejumlah masjid dihancurkan, Alquran dirobek dan dibakar. Umat Islam di negara bagian itu terpaksa harus mengungsi. Burma Digest juga mencatat, pada tahun 2005, telah muncul perintah bahwa anak-anak Muslim yang lahir di Sittwe, negara bagian Rakhine (Arakan) tidak boleh mendapatkan akta kelahiran.

Hasilnya, hingga saat ini banyak anak-anak yang tidak mempunyai akta lahir. Selain itu, National Registration Cards (NRC) atau kartu penduduk di negara Myanmar sudah tidak diberikan lagi kepada mereka yang memeluk agama Islam.

Pemaksaan Keyakinan

Mereka yang sangat membutuhkan NRC harus rela mencantumkan agama Buddha pada kolom agama mereka.

Bahkan, Pemerintah Myanmar sengaja membuat kartu penduduk khusus untuk umat Muslim yang tujuannya untuk membedakan dengan kelas masyarakat yang lain. Umat Muslim dijadikan warga negara kelas tiga. Umat Islam di negera itu juga merasakan diskriminasi di bidang pekerjaan dan pendidikan.

Umat Islam yang tidak mengganti agamanya tak akan bisa mendapatkan akses untuk menjadi tentara ataupun pegawai negeri. Tak hanya itu, istri mereka pun harus berpindah agama jika ingin mendapat pekerjaan.

Pada Juni 2005, pemerintah memaksa seorang guru Muslim menutup sekolah swastanya meskipun sekolah itu hanya mengajarkan kurikulum standar, seperti halnya sekolah negeri, pemerintah tetap menutup sekolah itu.

Sekolah swasta itu dituding mengajak murid-muridnya untuk masuk Islam hanya karena sekolah itu menyediakan pendidikan gratis. Selain itu, pemerintah juga pernah menangkap ulama Muslim di Kota Dagon Selatan hanya karena membuka kursus Alquran bagi anak-anak Muslim di rumahnya. Begitulah nasib Muslim Rohingya.

Nasib buruk yang dialami Muslim Rohingya mulai mendapat perhatian dari Organisasi Konferensi Islam (OKI). Kantor berita Islam, IINA, pada 1 Juni 2011, melaporkan, Sekretariat Jenderal OKI yang bermarkas di Jeddah telah menggelar sebuah pertemuan dengan para pemimpin senior Rohingya. Tujuannya, agar Muslim Rohingya bisa hidup damai, sejahtera, dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Dalam pertemuan itu, para pemimpin senior Rohingya bersepakat untuk bekerja sama dan bersatu di bawah sebuah badan koordinasi. Lewat badan koordiansi itulah, OKI mendukung perjuangan Muslim Rohingya untuk merebut dan mendapatkan hak-haknya.

Pertemuan itu telah melahirkan Arakan Rohingya Union (ARU) atau Persatuan Rohingya Arakan. Lewat organisasi itu, Muslim Rohingya akan menempuh jalur politik untuk mengatasi masalah-masalah yang dialami Muslim Rohingya. Semoga.


Selasa, 24 Januari 2012

Xenia Maut di Jakarta

Oleh Anjar Pujiyanti

Sahabat yang baik hati, jujur saya merasa miris membaca berita kejadian Xenia maut yang menewaskan 9 orang pejalan kaki di Tugu Tani, Jakarta. Nyesek rasanya di dada. Apalagi saat saya melihat ada korban seorang anak bernama Yusuf, yang baru berumur 2,5 tahun. Saya berharap semoga pelakunya dihukum setimpal dan saya yakin pengadilan Sang Pencipta selalu Adil. Ternyata sang pelaku menebar pesta miras sebelum menebar maut. Ternyata juga sang pelaku mengkonsumsi narkotika. Inilah kejahatan peradapan masa kini. Astaghfirulloh.

Inilah foto anak usia 2,5 tahun itu. Foto ini saya ambil dari teman facebook saya Nia Azzukhruf dalam Muhareva Raekiansyah’s photos. Sang ayah mencoba menempelkan botol susu ke mulutnya. Anak itu bergeming.  Dalam dekapan cinta sang ayah, anak itu menutup matanya selama-lamanya, tidak kembali.

Jujur kedua bola mata saya menghangat melihat foto ini. Melihat kejadian ini, saya teringat sebuah buku parenting yang pernah saya baca. Dikisahkan seorang ulama ternama yang sudah cukup usia dan mampu untuk menikah. Tapi dia tak kunjung melaksanakan ibadah setengah din itu. Sudah banyak kawan dan keluarga yang membujuk agar beliau segera menikah. Tapi beliau tidak mau. Hingga suatu ketika, beliau meminta agar dikenalkan dengan seorang wanita untuk dinikahi. Tahukah sahabat apa penyebab ulama itu minta disegerakan menikah?

Ternyata pada malam sebelumnya, beliau bermimpi. Beliau seolah berada di sebuah gurun yang maha panas seperti padang ma’syar. Beliau merasa haus, haus yang amat sangat seolah kerongkongannya terasa mau terputus. Kemudian datanglah seorang anak dengan membawa kendi berisi minuman. Beliau meminta minuman pada anak kecil itu. Namun anak kecil itu menjawab, “Minuman ini bukan untuk kamu, minuman ini sesungguhnya untuk bapak dan ibuku”. Jawaban itu benar-benar menohok ulu hati sang ulama. Kemudian sang ulama itu bertanya, “Sesungguhnya siapakah engkau?”. Anak kecil itu menjawab, “Sesungguhnya aku adalah anak seorang muslim yang meninggal dunia saat masih kecil”.Bagaimana mungkin saya bisa punya anak, kalau tidak menikah, pikir sang ulama. Karena mimpi itulah akhirnya sang ulama meminta dinikahkan.

Sahabat, penekanan pada tulisan saya kali ini, bukan pada bab nikah-nya, tapi pada keuntungan di akhirat jika mempunyai anak kecil yang sudah meninggal. Ternyata dia menjelma menjadi sebuah pertolongan untuk bapak dan ibunya. Subhanalloh.

Sahabat, saya berharap semoga sang ayah dan sang ibu dari anak korban kejadian Xenia maut tetap sabar dan tegar. Dan jerih payah membesarkan putranya Yusuf semoga segera digantikan dengan yang lebih baik. Semoga menjadi tabungan akhirat bagi mereka berdua. Wallahu’alam 



Break time in Bibis