Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Januari 2012

INGATANKU

Dibuat oleh: Anjar Pujiyanti

Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku. Aku tak tahu dimana aku sekarang. Aku tak tahu bagaimana aku bisa di sini. Aku tak tahu sudah berapa lama aku di sini. Aku tak tahu siapa dia dan siapa mereka yang sesekali berkelebat di bola mataku. Bahkan aku tak tahu siapa diriku. Aku tak tahu. Sungguh aku tak tahu.
Yang aku tahu hanya sebuah sakit yang menusuk ulu jiwa. Yang aku tahu aku hanya menggendong boneka beruang merah jambu. Yang aku tahu boneka ini sangat berarti bagiku. Yang aku tahu terkadang berdenging keras jeritan maut yang menggetarkan gendang telingaku. Yang aku tahu saat jeritan itu terdengar aku berteriak histeris sangat kuat. Yang aku tahu kemudian beberapa orang berbaju putih datang dan memberikan suntikan setelah itu gelap terasa.
Hal ini seolah hanya isapan jempol belaka. Tapi aku benar mengalaminya. Berdesing di telingaku jeritan maut yang merintih kesakitan. Gema jeritan itu seperti suara orang-orang yang aku sayangi. Tapi entahlah siapa. Sesekali tersebut sebuah nama. Nama itu tak asing sepertinya, aku sering mendengar nama itu. Seperti namaku ah tapi aku tak punya nama. Aku tak tahu namaku siapa.
Setiap pagi tiba aku selalu duduk termenung di kursi tua itu. Sebuah kursi peyot tertelan masa di sudut ruang. Mata sayuku memandang ke arah rumput kuning yang nyaris mati di luar sana. Mata sayuku terus memandang bahkan sampai seharian. Aku coba mencari jawaban. Sebuah jawaban besar. Rambutku bosah basih. Wajahku dekil. Bau badanku pun tak karuan. Mungkin orang akan muntah jika mendekat. Tapi aku tak pernah berfikir mengenai fisik. Aku hanya tahu bahwa aku tak tahu. Entahlah.
Aku masih berada di sudut ruang sampai senja tiba dan bahkan sampai malam menjelang. Aku merasa nyaman duduk di kursi tua ini. Hanya boneka beruang merah jambu ini yang menemani. Boneka ini bahagia ketika ku ajak bicara. Boneka ini tersenyum ketika ku ciumi. Boneka ini seperti mengingatkanku pada seseorang. Boneka ini sangat berarti meski harganya tak seberapa. Ya, boneka ini mengingatkanku pada seseorang. Seseorang siapa? Aku tak tahu. Yang jelas seseorang yang sangat istimewa mengisi relung jiwa. Tapi siapa? Aku  mencari jawaban, jawaban, dan jawaban. Aku terus mencari jawaban. Ku tatap lagi rumput kuning  yang nyaris mati. Aku tatap mereka dengan penuh tanya dan harap. Aku yakin mereka akan bisa bicara. Aku terus menanti agar mereka bicara. Aku berteriak keras “Siapa? Siapa? Siapa?”
Warna kuning rumput itu kemudian tertelan bayangan dinding pagar yang tinggi. Mereka berubah hitam gelap. Mereka tak memberiku jawaban bahkan cuma sekata pun tidak. Tidak sama sekali. Mereka diam hanya sesekali daunnya bergerak terhembus angin. Namun aku tak mengerti apa yang mereka katakan. Tapi aku yakin mereka akan bicara. Bicara padaku untuk memberikan sebuah jawaban. Jawaban atas pertanyaan “Siapa?”
Aku terus berteriak histeris “Siapa?”. Tiba-tiba aku telah berbaring di atas kasur sempit. Tangan dan kakiku terikat kuat. Aku tak bisa bergerak. Aku tak bisa. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Lagi-lagi hanya boneka beruang merah jambu itu yang menemani. Dia berada di samping kanan perutku. Ada seseorang yang menyodorkan boneka itu ke atas perutku. Boneka itu melontarkan senyum yang mengambang kepadaku. Kedua bola matanya berbinar memancarkan rasa cinta. Aku pun perlahan mulai tenang setelah melihat boneka itu. “Sayang, ayo bobok sama aku ya sudah malam nih, bobok ya? Jangan nakal ya? Cepet bobok biar  nggak digigit nyamuk. Di sini banyak nyamuk nakal kayak orang-orang yang berbaju putih itu nakal semua. Bobok ya? He he he….”. Boneka beruang itu menyahut dengan senyum lembut.
**
Lagi, aku duduk di kursi tua peyot. Ku tatap rumput kuning itu. Rumput itu perlahan berubah menjadi warna coklat. Mungkin mereka mau memberiku jawaban. Aku pandang mereka dengan mata sayuku. Setiap hari aku memandangnya, setiap hari pula aku mencari jawaban dari sebuah tanda tanya besar ini. Setiap minggu ah atau setiap apalah aku tak tahu ada bayangan seseorang di kedua bola mataku. Seseorang itu yang pasti seorang laki-laki. Dia selalu mengajakku berbicara. Tapi aku tak mengerti apa yang keluar dari mulutnya. Aku hanya mengelus-elus boneka beruangku. Laki-laki itu sepertinya aku kenal tapi aku tak tahu. Rasanya sering sekali dia mendatangiku.
Aku selalu duduk di sini, di kursi peyot ini. Terkadang aku merasakan hantaman kecil dikepala, dipundak, dan dikaki. Seperti ada orang yang mencoba menyakitiku. Kemudian aku mendengar gelak tawa yang dahsyat memekakkan gendang telingaku. Lalu mulut yang menggaungkan tawa itu mengeluarkan ludah yang tertumpah di pahaku. Aku ngamuk saat suatu ketika ludah itu mengenai boneka beruangku. Namun aku hanya terdiam jika ludah itu mengenai bagian tubuhku. Aku pun tak tahu mereka siapa. Yang aku tahu baju mereka sama denganku.
Terkadang berkelebat orang yang lalu lalang berbaju sama sepertiku. Mereka berjalan kesana kemari. Mereka tertawa dan tersenyum sendiri. Mereka bukan siapa-siapa tapi aku selalu menyaksikan mereka setiap hari. Sesekali monster-monster berbaju putih itu singgah di mataku. Aku tak tahu apakah ini yang disebut rumah sakit jiwa.
Ah rumput kuning itu sekarang sudah berubah coklat semua. Mereka sepertinya mau memberiku jawaban. Aku beranjak dari kursi tuaku. Ku coba mendekati rumput-rumput itu. Aku jongkok menyentuhnya dengan mesra. Aduh, tiba-tiba boneka beruangku jatuh. Segera kumembersihkannya karena aku tak mau boneka kesayanganku itu kotor. Aku tak mau. Saat kusentuh mesra rumput itu mereka tak bergerak sedikitpun. Mereka sudah mati, apa benar mereka sudah mati? Kenapa rumput itu tidak dikubur seperti manusia? Ku sentuh lagi dan tiba-tiba bergoyang seperti ada yang meniup. Kemudian perlahan mata sayuku beradu pandang dengan sepasang bola mata bak binar yang meletup-letup dan bersemangat di dalam retinanya. Kemudian sang pemilik mata indah itu meniup pelan lagi rumput coklat itu. Aku tatap sang pemilik mata indah itu dengan pandangan sayu.
Lagi, dia mulai mengajakku bicara. Tapi aku tak mengerti apa yang dia bicarakan. Lagi-lagi orang inilah yang selalu mendatangiku. Laki-laki itu adalah laki-laki yang memiliki mata indah. Aku hanya menatap mata indah itu. Aku tidak melihat mulutnya bergumam tak karuan. Aku hanya menangkap beberapa kata yang menggema di telinga “Gempa”, “Pernikahan”, “Ibunda Ayahanda”, “Empat tahun lalu”, “Mati”.
Namun yang tergema dan merasuk ke jiwa hanya kata “mati, mati, mati, mati, mati…”. Bingung mulai merasuki. Bingung yang sangat dahsyat. Laki-laki itu kemudian mengelus boneka beruangku dan berbisik mesra, “Ini pemberian dariku dik, empat tahun yang lalu sehari sebelum ibunda dan ayahandamu meninggal karena gempa” . Kalimat itu mulai terdengar jelas dan merasuki relung jiwa. Aku tercengang sepuluh menit. Lidahku terasa kelu berucap. Rasanya sudah amat sangat lama tak berkata. Ku pandang lekat-lekat wajah lelaki itu, “Mas Bram, kaukah itu?”. Seulas senyum bahagia dan lega terpancar dari wajah tampannya, “Iya, istriku. Cukup empat tahun saja kamu di sini. Ikhlaskan kepergian ibunda dan ayahanda. Kumohon kembalilah padaku. Tak ada yang bisa menggantikanmu. Aku sangat mencintaimu sayang...” . Tangis bahagia pecah dari sang pemilik mata indah, suamiku, Mas Bram.
***

MASIH KORUPSI

 Dibuat oleh: Anjar Pujiyanti

Jam 07.45 pagi
"Masih korupsi, pa?"
"Hmmm... mau dibawa kemana bangsa ini?" Papa Villareal bertanya pada dirinya dan mama Monica. Sesekali ia merapikan dasinya yang necis. Pandangan matanya masih lekat-lekat melototi televisi mewah flat 30 inci. Geram.
"Papa aja yang pengusaha rajin membayar pajak penghasilan, pajak mobil, pajak motor, pajak bumi dan bangunan. Mama juga rajin membayar pajak listrik. Rakyat tuh banyak yang taat pajak. Tak jarang mereka membayar pajak sampai ngantri melebihi antrian beli tiket nonton Manchester United. Eh, uangnya kagak masuk kantong negara, malah masuk kantong koruptor" Mama Monica mengepalkan tangannya, mukanya merah menyala seolah keluar dua tanduk di kepalanya.
"Orang kayak gitu harusnya dihukum mati. Coba deh, kita pikir, korupsi puluhan milyar dipenjara hanya 5 tahun remisinya 2 tahun. Huh, apa kata dunia? Efek jeranya dimana? Nggak ada!" Mama ngomel-ngomel sendiri.
"Itu dia baru kelas teri, kalau ketahuan kelas pausnya lebih ngeri lagi, ma..."
"Iya, ya. Masih banyak yang belum terungkap. Memang nangkap pencuri uang negara lebih susah daripada nangkap pencuri ayam. Emang bener markus pajak kejahatan luar biasa. Kongkalikong melulu", sahut mama ketus.
"Papa sih penghasilannya nggak kalah sama PNS golongan IIIA, tapi kekayaan papa belum mencapai bermilyar-milyar. Baru jadi jutawan, belum milyarder" Papa Villareal duduk di sofa empuk sambil membesarkan volume televisi. Acara berita masih berlangsung.
"Iya, soalnya papa tuh hanya pengusaha roti, R-O-T-I. Roti. Coba kalo papa Bill Gates ya? Mungkin mama nggak perlu pagi gini siap-siap belanja, pasti punya kurir. Mama maunya pergi spa tiap hari, creambath di salon tiap sore, dan bangunnya agak siang gitu..."
Papa Villareal memandang aneh mama Monica. Terlihat garis-garis kemarahan di wajahnya. Sementara wajah khayal mama Monica terpancar, bola matanya sesekali melirik langit-langit rumah, tersekat senyum di bibir merahnya, pikirannya melayang ke angkasa membawa tubuhnya serasa spa di salon ternama. Tak merasa bersalah sedikitpun dengan perkataannya. Tak merasa dia tidak bersyukur.
"Apa?" Teriak papa Villareal.
Teriakan itu seolah membuat rumah mewah mereka hendak rubuh, memecah khayalan mama Monica, keningnya mengkerut seketika, dan kemudian dia mendekati suaminya duduk di sofa empuk.
"Iya, Bill Gates, pa..."
"Kawin sana sama Bill Gates!"
Kemudian papa Villareal menggerendeng dalam hatinya, "Dasar Matre!"
Mama nyengir, "Kan sudah almarhum pa?"
"Cari aja kuburannya!" Bentak papa Villareal sambil menaikkan kacamata hitamnya yang melorot ke hidung.
Papa terdiam kesal, beberapa detik kemudian berkata, "Mama belanja lagi? Kemarin kan baru aja belanja habis satu juta. Mau belanja apa lagi sih ma...?"
"Bedak, lipstik, hand-body, pelembab, pembersih, minyak wangi. Hmm...terus rambut pirang palsu", jawab mama sambil menghitung jari tangannya menyebutkan satu per satu.
"Itu tuh biar bisa kayak bu Arlin, tetangga sebelah tuh, masak mama kalah sih perfomence-nya sama dia. Pakai rambut pirang palsu biar mirip Madonna, pa", lanjut mama Monica sambil matanya mengerling.
Kedua telinga papa Villareal seolah keluar asap panas.
"Istri papa itu Monica bukan Madonna!"
"Ih, papa jadul ah! Itu tu Madonna artis luar negeri. Hey, Mr DJ put record on I wanna dance with my baby...ah, ah, ah" Mama Monica menyanyikan lagunya Madonna sambil menirukan gaya artis berambut pirang itu.
Lagi-lagi, papa Villareal menggerendeng dalam hatinya, "Kalo Madonna sih kulitnya bule jadi pantes rambutnya pirang, lha kalo mama kulitnya hitam gitu, jadinya bule gosong".
Papa Villareal tersenyum geli sendiri, membayangkan istrinya yang glamor itu bergaya ala Madonna dengan kulit hitam dan wajah pas-pasan.
"Minta uang lagi pa...", Mama Monica merengek.
"Tabungan belanja mama apa sudah habis? Kemarin baru aja dikasih 2 juta. Buat belanja kemarin juga habis satu juta. Harusnya kan masih satu juta? Hayo, ngaku buat beli apa lagi?" Papa Villareal memaksa.
Mama gigit jari. Bingung mulai menyerang. Sebelumnya berkali-kali sudah bohong uang belanja buat beli ini-itu yang tak jelas. Kali ini nggak bisa bohong lagi.
"Yang sejuta buat beli baju satu setel pa..., ups!" Mama nyengir.
"Katanya buat belanja persediaan dapur sebulan..., mama ini gimana sih?" Papa Villareal naik darah.
Mama Monica tertunduk bersalah.
"Nah, itu namanya mama juga bohong ditambah korupsi. Korupsi satu juta! Baju sudah lima lemari masih saja kurang!"
Papa menengok jam tangan. Jam 08.00 tet.
"Aduh, telat! Jam 8 itu jam masuk kantor. Mama sih juga nggak ngingetin. Tahu suaminya gila berita, udah jam kantor tiba, eh kagak ditegur. Meski papa bos di kantor, papa juga harus memberi contoh disiplin waktu pada anak buah papa" Papa Villareal segera mengambil jas, tas kantor, dan kunci mobil cling-nya. Kemudian membuka pintu rumah tanpa cipika-cipiki layaknya selebriti seperti biasanya. Beberapa detik kemudian hanya terdengar suara klakson mobil.
Mama mengejar dan berteriak, "Pa, uang belanja mama mana?"
"Ah, mama sih korupsi satu juta!" Jawab papa di dalam mobil yang melaju.
"Papa juga korupsi. Korupsi waktu!" Gerutu mama sambil bibirnya manyun.
Media massa baik cetak maupun elektronik heboh membahas korupsi, menjadi headline dan berita unggulan. Namun terkadang mungkin kita juga melakukan korupsi kecil yang tak tersadari, waspada! Korupsi besar itu masih berlangsung menggerogoti kemakmuran rakyat, bahkan terkadang sudah menjadi sebuah sistem yang sulit terjangkau hukum. Untuk menjadi kaya, hanya "satu kata" yang selalu mendesis dalam hati dan pikiran mereka, korupsi, korupsi, korupsi, korupsi, korupsi, korupsi, korupsi.
Masih, mereka masih korupsi.
***

Cerpen ini pernah saya masukkan SoloPos, tapi belum dimuat sampai sekarang, he he he...

DASTER HAMIL

 Dibuat oleh: Anjar Pujiyanti

14 Agustus 1998
Jam berada di angka enam. Putarannya seolah lambat bak diganduli malaikat. Darmi  terbaring lemas di kasur setelah satu jam sebelumnya muntah-muntah tiada henti. Wajahnya pucat pasi. Sesekali tangannya mengelus perutnya yang tengah hamil 4 bulan. Suara adzan maghrib telah bergema namun Parmin suaminya tak kunjung pulang.
Tiba-tiba terdengar suara salam di luar pintu, Darmi menyahut dan berharap itu adalah Parmin. Dengan sekuat tenaga yang tersisa, Darmi bangkit dari kasur dan membukakan pintu “Mas Parmin akhirnya kau pulang juga” desahnya dalam hati sambil menyungging senyum. Langkahnya sempoyongan sesekali telapak tangannya memegang dinding rumah untuk menahan badannya yang mencapai 55 kilogram itu. Pintu rumahpun dibuka oleh Darmi dan ia berdesah pelan “Mas Parminku...“. Sosok seorang bapak berkumis tebal, berpecis hitam, dan berbaju necis nyengir di depan pintu. Bapak berusia 45 tahun itu kaget bukan kepalang.
“O, pak RT maaf pak, saya kira suami saya. Ada apa ya pak? Mari silahkan masuk”
“Ndak apa-apa, bu Darmi. Di sini saja. Saya cuma sebentar kok bu. Ini mau ngasihkan surat pembayaran listrik. Paling lambat tanggal 16 ya bu”
“Ya pak RT, terimakasih”
Tak lama kemudian pak RT pergi. Darmi melihat surat pembayaran listrik berwarna hijau muda itu tertulis angka Rp 35.000,00. Darmi hanya menghela nafas panjang. Hanya buat lampu saja tagihannya sudah banyak bagi pasangan Darmi dan Parmin. Tidak ada TV, tidak ada setrika, tidak ada kran, tidak ada mesin cuci, ah apalagi oven. Bayaran kerja lima tahun Parmin bisa buat ditabung membeli semua itu tapi dengan syarat selama lima tahun itu tak makan. Darmi pun tak mikir pajak kendaraan bermotor karena memang tak punya kendaraan berasap itu. Hanya sepeda onthel yang biasa dipakai Parmin kerja sebagai buruh bangunan.
Perut Darmi mual lagi. Kali ini nyaris muntah tapi nggak jadi. Ini baru kali pertama pengalaman hamil bagi Darmi setelah 3 tahun menikah dengan Parmin. Dua menit kemudian terdengar suara deringan sepeda di luar sana, “Suamiku...“,  desahnya. Ternyata suara deringan sepeda itu berasal dari seorang tukang siomay yang lewat. Kecewa menyusup pada diri Darmi
Darmi mengusek-usek daster coklat yang ia kenakan. Nampaknya sudah 4 hari tidak ganti. Daster coklat itu bermotif bunga dengan bawahan panjang dan lengan panjang. Kainnya kusut di sana sini. Perlahan Darmi membuka lemari. Baju-baju yang ia punya sudah tak cukup lagi menampung perutnya yang kian hari kian membesar. Hanya ada satu daster itu .
Darmi menengok jam dinding. Nyaris setengah tujuh. Tak biasa Parmin terlambat seperti ini. Hati Darmi mulai resah. Tak ada handphone untuk komunikasi. Bagi Darmi mending uang buat beli beras untuk hidup daripada untuk hidup handphone dengan pulsanya.
Tiga menit kemudian Parmin pulang. Darmi membuncah bahagia. Hari ini suaminya gajian. Sebuah kalimat permintaan sudah Darmi rancang untuk Parmin. Kalimat sederhana dan logis dari seorang Darmi untuk Parmin yaitu: “Mas, belikan saya daster hamil ya?”
“Dik, kamu habis muntah-muntah lagi ya? Wajahmu pucat sekali”
“Iya mas. Sudah setengah tujuh, kenapa baru pulang? Ada apa mas? Biasanya jam 4 sudah pulang. Aku sudah menunggumu lama, mas”
“Iya dik, maaf. Tadi aku membantu orang yang kecelakaan. Tabrak lari di jalan sebrang sana. Aku bantu dia ke rumah sakit. Dia seorang anak SMP”
“Tapi mas Parmin nggak papa kan?” Darmi khawatir.
Bibir Parmin tersekat senyum
**
Pukul 20.00
“Mas, pajak listriknya habis 35 ribu. Dua hari lagi harus dibayar mas” Kata Darmi sambil memijat-mijat kaki Parmin.
Parmin hanya terdiam. Pikirannya melayang pada uang di saku celananya. Tinggal sepuluh ribu rupiah. Itu uang jatah makan besok pagi. Ia berpikir istrinya akan marah jika tahu ternyata gajinya dua hari enam puluh ribu rupiah digunakan untuk membantu anak SMP yang kecelakaan sore tadi. Hati Parmin bergejolak. Sesekali Parmin mencium bau yang tidak sedap. Bau itu berasal dari daster Darmi yang 4 hari tidak ganti. Sementara Darmi masih memijit-mijit kaki Parmin yang kelelahan. Mereka berdua terdiam. Masing-masing ingin menyampaikan sesuatu, Darmi dengan keinginan daster hamilnya dan Parmin dengan uang gajiannya. Tapi mereka berdua nampak menimbang-nimbang. Suasana mulai lengang hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak. Lima menit kemudian Darmi angkat bicara dengan perlahan mengungkap keinginannya. Kalimat sederhana dan logis itu muncul dari mulut Darmi “Mas, belikan saya daster hamil ya?”
Parmin menatap lekat-lekat wajah istrinya dan berkata “Dik, maaf uang gajianku tadi buat membantu anak yang kecelakaan. Aku kasian sekali sama dia. Dua hari lagi mas Parmin kerja lagi dan dapat enampuluh ribu lagi. Nanti buat jatah bayar listrik dan sisanya dua puluh lima ribu. Duapuluh untuk jatah makan dan lima ribu jatah buat nabung beli daster”.
Darmi tersenyum kecut. Sementara hatinya berteriak “Ikhlas, ikhlas, ikhlas...“. Ulu hati Parmin terasa sesak tak bisa memenuhi permintaan istrinya.
**
17 Agustus 1998
Pajak listrik telah dibayar. Subuh itu Parmin nampak bersemangat. Senyumnya mengambang. Ia mengenakan kaos biru, bercelana hitam, dan bersepatu olahraga. Ternyata ada lomba lari 5 km tingkat kelurahan yang diselenggarakan di desa sebelah. Umur Parmin yang berkepala tiga itu masih kuat kalau hanya untuk lari. Wajahnya berseri-seri. Karena juara I nanti akan dapat satu set kasur. Juara II akan dapat selusin daster hamil dan juara III akan dapat selusin piring. Lomba itu rencana akan diikuti 50 peserta dari perwakilan desa.
“Dik, doakan mas ya , semoga bisa juara II biar bisa dapat daster hamil”
“Kenapa tidak juara I mas?”
“Juara I hadiahnya kasur. Kasur kita masih cukup bagus kan? Yang penting mas bisa dapat daster hamil” Parmin mengelus perut Darmi yang kian hari kian membesar.
Parmin semangat 45. Haru mulai merasuki hati Darmi dan diam-diam ia berdoa untuk suaminya.
**
Matahari semakin meninggi. Parmin segera mengayuh sepeda dan memboncengkan istrinya. Sepeda itu sesekali mengkriet tak karuan karena menahan berat badan mereka yang lebih dari 100 kilogram. Jarak menuju tempat lomba berkisar satu kilometer. Cahaya matahari pagi membasuh wajah Parmin yang berseri-seri.
Lomba itu akhirnya dimulai. Memang benar 50 peserta termasuk Parmin. Ia sudah mengambil posisi start. Ia berada di tengah-tengah kerumunan peserta yang lain. Tak nampak oleh istrinya Darmi juga berada dikerumunan penonton yang lain. Lagi-lagi ia mengenakan daster coklat bermotif bunganya. Dalam hatinya tak henti berdoa untuk suaminya agar juara II.

Suara peluit telah ditiup. Dan kelimapuluh peserta mulai lari sekencang-kencangnya dari garis start. Matahari pagi menemani langkah cepat kaki Parmin. Kaki yang sering kelelahan setelah seharian bekerja sebagai buruh bangunan, kaki yang setiap malam dipijiti oleh Darmi. Parmin lari, lari, lari, dan lari. Dia lari sekencang dan sekuatnya. Dia mulai menyalip satu per satu peserta yang lain. Rambutnya mulai bosah-basih kemana-mana. Keringat mengucur ke segenap muka, leher, tangan, dan kakinya. Jantungnya berdetak kencang. Nafasnya ngos-ngosan. Dalam pikiran Parmin terngiang “Daster hamil, daster hamil, daster hamil”. Kemudian terbayang wajah istrinya mengenakan daster hamil baru dan wangi. Saat itu wajah Darmi terbayang di mata Parmin seelok bidadari dengan senyum tersungging di bibir merahnya.
Parmin sudah menempuh 4,5 kilometer, ini berarti setengah kilometer lagi. Saat itu hanya ada 4 peserta termasuk Parmin. Dia berada pada posisi ke empat menuju garis finish “Kalau juara 4 nggak dapat apa-apa, piring aja nggak dapat, apalagi daster”, pikir Parmin. Kemudian dia menambah kecepatan larinya. Nafasnya semakin ngos-ngosan Beberapa menit kemudian ia mampu menyalip 2 peserta yang lain.
Parmin berada di urutan kedua menuju garis finish. Dia saling salip dengan peserta yang berada di urutan kesatu. Wajah Darmi dengan daster barunya berkelebat di mata Parmin. Semangatnya seperti dicas. Tiga detik kemudian Parmin berada diurutan pertama. Seratus meter lagi menuju garis finish. Para penonton nampak riuh menyambut calon pemenang. Kedua mata Darmi nampak berkaca-kaca. Air matanya nyaris tumpah melihat suaminya menuju garis finish. Parmin ada di urutan pertama menuju garis finish hanya berjarak satu meter dari peserta di belakang Parmin. Dari kejauhan Darmi berteriak “Ayo mas Parmin!”
Limapuluh meter lagi, tiba-tiba Parmin mengerem larinya perlahan membiarkan peserta di belakangnya menyalip dan dalam hatinya berkata, “Aku tak mau juara I aku ingin juara II”. Wuuuz...peserta di belakang Parmin mulai menyalip, dia orang pertama yang menginjak garis finish dan kemudian disusul Parmin. Darmi menghela nafas panjang dan berjalan cepat menuju Parmin. Sambil ngos-ngosan Parmin berkata, “Daster hamil, daster hamil, daster hamil, dik”. Darmi tersenyum lega dan bahagia.
18 Agustus 1998
Darmi mengenakan daster hamilnya yang baru. Sekarang tak hanya satu miliknya. Sekarang Darmi memiliki 13 daster hamil. Wajah elok bak bidadari itu kenyataan terjadi dan dilihat oleh Parmin, wajah seorang Darmi.
Pintu rumah diketuk Parmin kedatangan tamu bupati. Ternyata anak SMP yang ditolong saat kecelakaan itu adalah anak seorang bupati. Parmin tercengang kaget dan tak menyangka sedikitpun. Bupati itu memberi sekarung beras makanan dan uang satu juta rupiah sebagai ganti uang enampuluh ribu yang dikeluarkan Parmin. Bupati itu tiada berhenti mengucap terimakasih atas kebaikan Parmin. Karena dia buah hatinya selamat. Hati Darmi dan Parmin bertasbih, bertahmid dan bertakbir tiada henti. Syukur mengiringi.
***

Kamis, 05 Januari 2012

DIA BUKAN BAYIKU

  Dibuat oleh: Anjar Pujiyanti



Namaku Sumiyem. Aku sudah mempunyai empat anak. Tapi ketiga anakku mengalami keterbelakangan mental. Hanya anak pertamaku yang normal. Saat ini aku tengah mengandung sembilan bulan lebih. Sebentar lagi mungkin anakku yang kelima segera mbrojol. Sampai saat ini pun suamiku tak tahu menahu kalau aku hamil. Berat badannku sekarang mencapai 80 kilogram, dikatakan gemuk juga tidak salah. Aku selalu memakai baju yang besar. Sehingga tak seorang pun tahu tentang kehamilanku ini. Bahkan suamiku pun tak ku beri tahu, apalagi para saudara atau pun tetangga. Dan mereka pun tak menaruh curiga sedikit pun. Selama hamil aku pun jarang sekali mengalami mual dan muntah seperti wanita hamil kebanyakan. Ini sudah kali kelima pengalaman bunting.
Aku pun terkadang merasa depresi. Ketiga anakku mengalami keterbelakangan mental. Idiot kata orang-orang. Anakku kedua sudah berusia 9 tahun, anak ketiga 5 tahun, anak keempat 3 tahun. Dan anakku yang pertama laki-laki berusia 15 tahun, hanya dia yang normal. Sehingga saat hamil anak yang kelima ini, aku benar-benar tidak menikmati. Aku takut, sangat takut jika calon bayi di rahim ini idiot lagi, bahkan terkadang aku takut tak mampu menghidupinya.
Anakku keempat bernama Kalisa. Aku beri nama Kalisa karena dulu dia lahir di sungai saat aku buang hajat. Kali dalam bahasa Jawa artinya sungai. Dia lahir begitu saja di sungai. Aku lahirkan sendiri tanpa bantuan dukun bayi, bidan ataupun dokter. Saat itu pukul setengah empat pagi, jadi tak ada orang wara wiri. Lagipula sungai itu hanya 200 meter dari rumah.
Rumahku amat sederhana. Hanya berlantai tanah dan berjendela gedeg. Tiada kursi dan meja tamu, hanya tikar sederhana untuk menemui tamu. Penghasilan suamiku sebagai buruh hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Saat itu jam dua malam. Aku terbangun. Calon bayiku terasa menendang-nendang keras seolah memaksa mbrojol. Kontraksi luar biasa tiba-tiba terjadi. Aku lihat suamiku masih tertidur pulas berselimutkan sarung hijaunya. Bingung mulai menyerang. Tak mungkin aku minta bantuan suami. Tak mungkin! Aduh, tapi rasanya ingin buang hajat. Perlahan aku tarik sarung hijau suamiku dan tanpa berpikir panjang, aku langsung mengayuh sepeda onthel tua-ku. Tak ada kendaraan berasap, seperti sepeda motor. Mobil apalagi, ah mimpi.
Aku kayuh sepeda onthel dengan sekuat tenaga yang tersisa menuju kali bengawan, kira-kira 700 meter dari rumah. Bayi dalam rahimku semakin lama semakin agresif. Ini benar-benar gila bagi orang normal. Mau melahirkan kok malah naik sepeda. Ini gila. Tapi memang benar aku sedang gila. Aku merasa aku bukan diriku. Bingung mulai menyusup menjalar ke seluruh tubuh.
Ngiikk...ngiikk...ngiikk... Ngiikk...ngiikk...ngiikk...
Suara sepeda onthel-ku terus mengkrinyet. Seolah dia protes menahan badanku yang berat ini. Tapi dia terus ku paksa. Dia ku kayuh terus. Kriyetan suara sepedaku seolah memecah keheningan malam sepanjang jalan desa. Suasana masih lengang. Sesekali angin malam berhembus menerpa wajahku yang kebingungan.
Satu menit kemudian terdengar suara gemericik air kali Bengawan. Di samping kanan kali itu ada sebuah gorong-gorong tak berair, hanya ada rumput-rumput kotor, dan sedikit lumpur yang berbau. Aku pun langsung masuk ke dalam gorong-gorong itu. Aku mulai merasakan darah mengalir perlahan menuju kaki. Keringat mulai berkucur ke segenap muka dan leher. Aku mulai merintih kesakitan. Aku teriak. Aaaargh....
Benar-benar sudah mbrojol! Aku melihat bayiku berlumuran darah, tangisnya pecah seketika. Aku tiba-tiba merasa jijik melihatnya. Aku merasa bayi mungil laki-laki itu bukan siapa-siapa. Dia bukan bayiku. Dia bukan anak kelimaku. Aku tak pantas merawat anak lagi. Aku tak becus. Ketiga anakku idiot. Aku tak mau, sungguh aku tak mau. Aku jijik.
Kedua mataku mulai menghangat. Kusaksikan sekelilingku. Masih lengang tak ada orang. Perlahan kumulai membungkus bayi itu dengan sarung hijau suamiku. Bayi itu kemudian perlahan terdiam dari tangisnya. Saat ku pegang badan bayi itu mulai agak dingin dan wajahnya pucat. Ah, lagi-lagi dia bukan bayiku! Tidak!
Suara adzan subuh mulai menggema. Ini berarti akan banyak orang-orang desa beraktivitas. Aku harus segera pergi. Biarlah bayi ini ku tinggal di sini. Karena dia bukan anakku. Sambil merasakan sakit yang amat sangat, aku paksa diri mengayuh sepeda lagi. Seharusnya aku dijahit, ah tapi tak menghiraukannya. Yang aku inginkan adalah segera sampai rumah dan tak ada orang yang melihat. Betapa sakitnya sebenarnya beberapa menit setelah melahirkan langsung dipaksa untuk bersepeda. Ini gila! Sesampai di rumah, suamiku dan anak-anakku masih tertidur. Aku berusaha berekspresi biasa-biasa saja dan seolah tak terjadi apa-apa agar mereka tak curiga. Aku pun langsung membuat sambal trasi untuk sarapan nanti.
**
Jam 6 pagi, desaku mulai digemparkan dengan penemuan bayi. Tetanggaku bernama bu Nani yang menemukan. Rumah bu Nani hanya berjarak lima rumah dari rumahku, masih satu RT. Aku mendengar berita itu dari suamiku. Bahkan suamiku ikut dalam kerumunan warga yang menyaksikan.
”Kasian sekali bayinya lo buk, masak tega sekali sih mbuang bayi. Bayinya laki-laki”, kata suamiku.
Aku hanya terdiam membisu. Kemudian menggerendeng dalam hati ”Itu anakmu pak...”
”Buk, kamu kok kelihatan pucat?”
Aku tak mau suamiku curiga. Senyumku mulai mengambang dan berkata ”Tak apa pak, aku tidur dulu ya pak. Mungkin cuma butuh istirahat. Kalau mau sarapan sambal trasinya sudah siap”. Aku pun masuk kamar.
Jam 9 pagi
”Sarung hijau bapak dimana?”, tanya anak pertamaku, Eko.
”Kenapa emang?”, jawab suamiku sambil keningnya mengkerut. Dan kemudian mencari sarung hijau di kamar. Aku pura-pura masih tertidur.
”Aku tadi habis dari rumah bu Nani. Di sana masih banyak orang. Bayi itu sekarang jadi rebutan pak. Banyak orang yang ingin merawatnya bahkan pak lurah juga. Tadi ada polisi dan beberapa wartawan datang. Tetanggga-tetangga desa semua mendatangi rumah bu Nani. Desa kita masuk koran pak! Terus...” Eko tiba-tiba terdiam.
”Ko...?”. Suamiku melongo dan heran.
”Sarung bapak nggak ada!”
”Tadi eko lihat sarung hijau bapak ada di rumah bu Nani. Katanya sarung itu yang dipakai buat membungkus bayi malang itu”
Suamiku dan Eko saling tatap heran.
Akhirnya bayi itu diangkat anak oleh pak lurah. Semua warga desa telah mengetahui bahwa bayi itu anakku. Aku sering mendengar pendapat miring tentangku. Kenapa tega sekali bu Sumiyem itu? Kenapa tidak diberikan kepada saudaranya? Kenapa bikin anak terus? Kenapa tidak KB? Kenapa sampai suaminya tidak tahu? Dan kenapa-kenapa yang lain. Aku pun juga tak tahu jawaban yang pasti kenapa. Seminggu kemudian pejabat tertinggi Kabupaten beserta segenap jajarannya mendatangi rumahku. Mereka memberikan santunan untuk keluarga dan anak-anakku. Sampai saat ini hatiku masih berkata ”Dia bukan bayiku”. Gila!
***