Sumber gambar: wildancahyo.wordpress.com
Hafalan Sholat Delisa adalah sebuah judul film yang mengisahkan bencana tsunami Aceh Desember 2004. Masih ingatkah sahabat dengan kejadian tsunami tersebut? Saya masih duduk di semester 1 saat bencana itu terjadi. Saya masih ingat beberapa hari setelah kejadian itu saya berinisiatif membuat leaflet agar para mahasiswa menyalurkan donasi ke beberapa nomor rekening penyalur dana untuk tsunami Aceh. Saya memasang leaflet2 itu di semua papan pengumuman fakultas.
Sumber gambar: azzamyisc.wordpress.com
Adakah dari sahabat yang pernah menonton film ini? Pasti sudah ada. Adalah seorang anak yang bernama Delisa hidup bersama seorang umi dan ketiga kakaknya. Sedang abi Delisa dikisahkan bekerja nan jauh dari rumah mereka. Ketiga kakak Delisa bernama kak Fatimah, kak Zahra, dan kak Aisyah. Dimana yang bernama kak Aisyah terkadang bertengkar dengan Delisa. Aisyah iri dengan Delisa karena Delisa dibelikan kalung berliontin huruf “D” yang berarti “Delisa”. Namun di saat Aisyah menangis karena merasa iri , sang umi yang diperankan oleh Nirina Zubir, mendekati Aisyah dan menasehatinya. Saya melihat sosok umi ini adalah seorang yang ideal, sabar, penyayang, dan sangat memotivasi anak-anaknya. Namanya saya lupa siapa, hehe
Nah, hadiah kalung berlionton huruf D tersebut diberikan jika Delisa lulus ujian bacaan sholat. Hari ujian hafalan sholat itu tiba, saat di perjalanan menuju tempat ujian, Delisa sudah merengek kepada sang umi agar diberikan kalung itu. Kata umi Delisa, nanti setelah lulus ujian baru diberikan, kalung itu masih tersimpan di lemari rumah. Tapi Delisa terus merayu dan merengek kepada uminya. Tak kuasa menahan rengekan putrinya , akhirnya Delisa beserta uminya kembali ke rumah untuk mengambil kalung itu. Uminya Delisa memasukkan kalung itu ke dalam tasnya. Tahukah sahabat apa yang terjadi? Tiba-tiba terjadi gempa. Mereka berdua berusaha keluar dari rumah. Gempa itu hanya beberapa saat dan kemudian reda kembali. Mereka sempat panik sesaat.
Beberapa saat kemudian Delisa berpamitan dengan ketiga kakaknya. Sebenarnya saat itu Delisa sudah mengajak ketiga untuk ikut. Salah satu dari mereka menjawab “Tidak usah, kami dirumah saja”. Wajah mereka bertiga cukup riang saat berpamitan dengan adiknya yang hendak mengikuti ujian hafalan sholat.
Saat Delisa dan uminya berjalan beberapa meter meninggalkan rumah, Aisyah berteriak “Ayo Delisa kamu harus hafal, kalau tidak hafal nanti kalungnya buat Aisyah lo!”. Dan dijawab oleh Delisa, semuanya tersenyum.
Penguji hafalan sholat kalo tidak salah bernama ustadz Rahmat. Semua anak siap mengikuti ujian hafalan shalat tersebut. Umi Delisa terlihat di balik jendela ruang ujian. Dengan bahasa isyarat dia memberi motivasi pada Delisa, dan sesekali menunjukkan hadiah kalung itu. Nah, tiba saatnya giliran Delisa. Ustadz Rahmat memberi kalimat nasehat agar Delisa bisa. Delisa nampak yakin bisa. Bismilllah…Delisa melakukan takbiratul ihram. Beberapa saat kemudian gempa besar terjadi. Seluruh bangunan perlahan runtuh. Semua orang panik. Delisa masih khusyuk dalam shalatnya. Umi Delisa berteriak “Delisa, Delisa, Delisa!”. Tapi Delisa tetap khusyuk. Tiba-tiba air laut masuk ke daratan. Semuanya tenggelam. Mukena Delisa terlepas melayang terbawa air. Semua rumah lenyap. Saat adegan ini saya sempat tegang, air mata saya semakin basah. Apalagi setelah melihat mayat seorang anak yang meninggal mengapung di dalam air.
Berita tsunami itu akhirnya didengar oleh abinya. Kontan sebagai seorang abi tentu kaget, sedih, panik, entahlah semuanya bercampur jadi satu. Mengingat dia meninggalkan istri dan keempat anaknya tercinta, di sebuah rumah sederhana di pinggir laut. Sang abi pun pulang, dia menemui rumahnya sudah hancur tak bersisa. Saya tambah nangis saat melihat adegan sang abi Delisa menemui sebuah sisa anyunan yang biasa ada di depan rumah. Kemudian terlintas dalam ingatan sang abi celotehan dan tawa riang keempat anaknya. Banjir ni air mata.
Lalu sang abi berusaha mencari kabar keluarganya. Dia mendapat kabar bahwa Fatimah sudah dikebumikan, juga Aisyah dan Zahra. Mayat Zahra dan Aisyah ditemukan meninggal, keduanya dalam keadaan berpelukan. Seperti melambangkan kasih sayang yang besar antara kakak adik. Saya melihat tokoh abi Delisa ini sosok seorang yang tegar dan sabar. Istrinya belum ditemukan dimana, begitupula dengan Delisa. Dimana Delisa??
Di antara batu karang di pinggir pantai seorang anak merintih kesakitan dengan wajah pucat pasi dan kaki yang terluka berat. Dia terlihat sangat lemah, dia berusaha mengambil sebuah buah di dekatnya. Buahnya apa ya? kalo nggak salah apel dech . Anak itu melihat sebuah helikopter terbang di atasnya. Namun terlihat samar. Beberapa saat kemudian anak itu ditemukan oleh seorang relawan luar negeri, kalo tidak salah namanya Mr. Smith ya? Tokoh ini diperankan oleh mantan suaminya Tamara Bleszynki (aduh namanya susah amat sich:0), Mike Lewis ya namanya? Cocok banget dengan perannya.
Nah, anak yang diselamatkan oleh Mr. Smith itu adalah Delisa. Dia membawa Delisa ke rumah sakit dan nampaknya lama sadarnya, hingga semua merasa khawatir. Dari situlah kemudian muncul tokoh wanita yang merupakan relawan dari luar negeri juga. Aduh siapa sih namanya saya lupa lagi, hehe.., yang jelas nampaknya dia nantinya dikisahkan ada benih-benih cinta dengan ustdaz Rahmat.
Singkatnya, abi Delisa berhasil menemui Delisa. Mereka girang bukan kepalang. Aduh yang bikin terharu tuh adegan saat Delisa melihat kakinya yang tinggal satu. Dengan kondisi seperti itu Delisa masih berkata kegirangan, “Tapi kaki yang satunya masih bisa bergerak!”, subhanalloh, sangat terlihat ketegaran Delisa menghadapinya. Ditambah lagi dia harus kehilangan umi dan ketiga kakak tercintanya.
Hari demi hari dilalui oleh Delisa dan abinya. Abi Delisa membangun rumah lagi walau sangat kecil. Betapa hari-hari itu terasa beda tanpa kehadiran seorang umi dan ketiga kakaknya bagi Delisa. Sesekali dia teringat uminya. Namun saya melihat tokoh Delisa ini sangat kuat dan tegar. Saat kakinya yang tinggal satu itu, ia ngotot untuk bermain bola seperti hari-hari sebelum tsunami terjadi, bersama teman-temannya tentunya. Ketegaran menghadapi musibah mungkin itu hal yang bisa kita pelajari dari Delisa.
Sumber gambar: kluat-computer.blogspot.com
Dalam tayangan (seperti mimpi) Delisa bertemu dengan uminya. Delisa hendak diberi kalung hadiah hafalan shalat oleh uminya yang belum sempat diterima. Tapi Delisa menolak dan mengatakan dia tidak ingin hadiah, dia hanya ingin bisa melaksanakan shalat dengan baik.
Begitulah sahabat resensi film Hafalan Shalat Delisa. Saya habis banyak tisu selama menonton (maaf ya suamiku :0) . Selamat menonton sahabat! Semoga bisa mengambil hikmah yang baik dari film Hafalan Shalat Delisa.
Rabu, 15 Agustus 2012
Senin, 06 Agustus 2012
AKU INGIN PALESTINA TERSENYUM KEMBALI
Saat menjelang buka puasa kemarin berkelabat dalam benak saya sejenak tentang Palestina. Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah berita tentang perkembangan Palestina. Tahukah sahabat? Ternyata di bulan Ramadhan ini para tahanan Palestina dipaksa puasa 20 jam. Dan tak jarang makanan sudah mulai basi tidak bisa buat sahur.
Sahabat, saat Somalia kelaparan, Rohingnya tertindas, duka Palestina masih tersisa, alangkah bijaknya di bulan Ramadhan ini kita bersama menyelipkan doa-doa untuk mereka. Dan berbuatlah lebih banyak bagi sahabat yang punya kekuasaan dan wewenang mengenai hal tersebut. Berikut ini adalah foto-foto sejarah tahun 2009 lalu. Foto-foto ini saya ambil dari detik foto tertanggal Senin, 05/01/2009 18:44 WIB
Serangan yang dilancarkan oleh Israel melaluli darat, laut dan udara mengakibatkan penderitaan bagi anak-anak Palestina, Senin (05/01). Mereka meregang nyawa akibat serangan tentara Israel.
Tiga anak kecil tewas akibat agresi Israel yang dilancarkan di Jalur Gaza. Foto: Reuters/Suhaib Salem.
Seorang anak kecil menangis kesakitan saat diperiksa oleh tim medis. Foto: Reuters/Suhaib Salem.
Dua orang dokter sedang menggendong balita yang tewas akibat agresi Israel yang menggempur Jalur Gaza. Foto: Reuters/Suhaib Salem.
Seorang bayi menangis menahan sakit akibat serangan tank-tank Israel. Foto: Reuters/Suhaib Salem.
Inilah putra-putri bangsa Indonesia melantunkan doa untuk mereka, sudahkah kita melakukannya?
Siswa-siswi Sekolah Dasar dari Indonesia berdoa bersama untuk anak-anak Palestina yang menjaadi korban tentara Israel. Foto: Reuters/Sigit Pamungkas.
Tidakkah kita menginginkan keceriaan seperti ini didapatkan oleh semua anak Palestina dan semua anak di dunia?
Sumber: unilevergreenandclean.co.id
Anak-anak punya banyak hak. Mereka berhak mendapatkan kasih sayang bukan penderitaan, mereka berhak mendapatkan keceriaan bukan kemuraman, mereka berhak mendapatkan kebahagiaan bukan kesedihan. Harapan saya adalah “Aku ingin Palestina tersenyum kembali…”
Sahabat, saat Somalia kelaparan, Rohingnya tertindas, duka Palestina masih tersisa, alangkah bijaknya di bulan Ramadhan ini kita bersama menyelipkan doa-doa untuk mereka. Dan berbuatlah lebih banyak bagi sahabat yang punya kekuasaan dan wewenang mengenai hal tersebut. Berikut ini adalah foto-foto sejarah tahun 2009 lalu. Foto-foto ini saya ambil dari detik foto tertanggal Senin, 05/01/2009 18:44 WIB
Serangan yang dilancarkan oleh Israel melaluli darat, laut dan udara mengakibatkan penderitaan bagi anak-anak Palestina, Senin (05/01). Mereka meregang nyawa akibat serangan tentara Israel.
Tiga anak kecil tewas akibat agresi Israel yang dilancarkan di Jalur Gaza. Foto: Reuters/Suhaib Salem.
Seorang anak kecil menangis kesakitan saat diperiksa oleh tim medis. Foto: Reuters/Suhaib Salem.
Dua orang dokter sedang menggendong balita yang tewas akibat agresi Israel yang menggempur Jalur Gaza. Foto: Reuters/Suhaib Salem.
Seorang bayi menangis menahan sakit akibat serangan tank-tank Israel. Foto: Reuters/Suhaib Salem.
Inilah putra-putri bangsa Indonesia melantunkan doa untuk mereka, sudahkah kita melakukannya?
Siswa-siswi Sekolah Dasar dari Indonesia berdoa bersama untuk anak-anak Palestina yang menjaadi korban tentara Israel. Foto: Reuters/Sigit Pamungkas.
Tidakkah kita menginginkan keceriaan seperti ini didapatkan oleh semua anak Palestina dan semua anak di dunia?
Sumber: unilevergreenandclean.co.id
Anak-anak punya banyak hak. Mereka berhak mendapatkan kasih sayang bukan penderitaan, mereka berhak mendapatkan keceriaan bukan kemuraman, mereka berhak mendapatkan kebahagiaan bukan kesedihan. Harapan saya adalah “Aku ingin Palestina tersenyum kembali…”
Selasa, 31 Juli 2012
Cinta Untuk Muslim Rohingnya
Sebuah rumah yang dibangun dengan cinta bersama keluarga
Sebuah rumah yang di dalamnya dibacakan ayat suci Al-Qur’an
Sebuah rumah tempat melepas lelah
Sebuah rumah tempat berbagi bersama keluarga
Dan sekarang rumah itu dibakar
Mereka melarikan diri
Menyelamatkan diri dari penindasan dan pembunuhan
Kapal-kapal itu terkatung-katung di tengah luasnya samudera
Beras pemberian negara tetangga dimakan mentah-mentah
Negara tetangga itu tak mau menerima mereka
Dingin menusuk tulang mereka
Panas membakar kulit mereka
Ketakutan akan keselamatan jiwa di tengah samudera
Kejam
Sadis
Apalah arti Hak Asasi Manusia jika hak hidup saja sulit didapatkan
Pemerkosaan yang merenggut kehormatan
Anak kecil tak berdosa disiksa dan dibunuh
Penindasan yang tak kenal dosa dan tak kenal kasih
Apa kiranya perasaan kita ketika yang dibakar adalah rumah kita?
Apa yang kita rasakan bila yang berada di dalam kapal yang terkatung-katung di tengah samudera itu adalah kita, anak kita dan saudara kandung kita?
Bagaimana jika yang dibunuh adalah Ibu kita? Bibi, Paman, Keponakan, Sepupu atau Saudara Kandung kita?
Bagaimana jika yang diperkosa adalah adik kita yang baru akan mekar? Atau, istri yang barus aja kita nikahi?
Dan anak-anak yang meregang nyawa itu adalah anak kandung kita yang telah ditunggu kehadirannya sejak lama?
Persaudaraan Islam tak terbatas wilayah
Bersama bantu muslim Rohingnya
Sekecil apapun itu
Bantu
Mari Bantu
Sejumlah warga muslim Rohingya naik perahu menyeberangi sungai Naf, untuk melintasi perbatasan dari wilayah Myanmar ke Bangladesh, di kota Teknaf sebelah Selatan Bangladesh . (Reuters)
Sumber gambar: http://www.republika.co.id
Sebuah rumah yang di dalamnya dibacakan ayat suci Al-Qur’an
Sebuah rumah tempat melepas lelah
Sebuah rumah tempat berbagi bersama keluarga
Dan sekarang rumah itu dibakar
Mereka melarikan diri
Menyelamatkan diri dari penindasan dan pembunuhan
Kapal-kapal itu terkatung-katung di tengah luasnya samudera
Beras pemberian negara tetangga dimakan mentah-mentah
Negara tetangga itu tak mau menerima mereka
Dingin menusuk tulang mereka
Panas membakar kulit mereka
Ketakutan akan keselamatan jiwa di tengah samudera
Kejam
Sadis
Apalah arti Hak Asasi Manusia jika hak hidup saja sulit didapatkan
Pemerkosaan yang merenggut kehormatan
Anak kecil tak berdosa disiksa dan dibunuh
Penindasan yang tak kenal dosa dan tak kenal kasih
Apa kiranya perasaan kita ketika yang dibakar adalah rumah kita?
Apa yang kita rasakan bila yang berada di dalam kapal yang terkatung-katung di tengah samudera itu adalah kita, anak kita dan saudara kandung kita?
Bagaimana jika yang dibunuh adalah Ibu kita? Bibi, Paman, Keponakan, Sepupu atau Saudara Kandung kita?
Bagaimana jika yang diperkosa adalah adik kita yang baru akan mekar? Atau, istri yang barus aja kita nikahi?
Dan anak-anak yang meregang nyawa itu adalah anak kandung kita yang telah ditunggu kehadirannya sejak lama?
Persaudaraan Islam tak terbatas wilayah
Bersama bantu muslim Rohingnya
Sekecil apapun itu
Bantu
Mari Bantu
Sejumlah warga muslim Rohingya naik perahu menyeberangi sungai Naf, untuk melintasi perbatasan dari wilayah Myanmar ke Bangladesh, di kota Teknaf sebelah Selatan Bangladesh . (Reuters)
Sumber gambar: http://www.republika.co.id
Minggu, 29 Juli 2012
Dinnaila
Tepat dua tahun yang lalu sebelum adzan Isya terdengar, kau lahir dari rahim ini dengan tangisan yang keras. Dan kebahagianku membuncah kala itu. Bahagia, lega, dan haru bercampur jadi satu. Bidan yang baik hati itu masih melanjutkan tugasnya merawatku, saat sudah selesai di ruang persalinan kemudian aku akan dipindah ke ruang perawatan yang jaraknya hanya beberapa meter. Aku masih ingat sekali, saking gembira dan semangatnya, aku meminta kepada bidan untuk berjalan kaki sendiri menuju ruang perawatan. Kontan bidan yang baik hati itu tertawa dan melarangku sehingga aku dibopong menuju ruang perawatan karena memang kondisiku masih lemah.
Memakan waktu 22 jam saat itu sampai melahirkan. Masuk ke bidan hari Kamis jam 9 malam dan lahir di hari Jumat-nya jam 7 malam. Luar biasa. Semua kesakitan itu musnah seketika saat ku melihat wajah mungilnya. Pemilik wajah mungil itu kami beri nama “Kamila Dinnaila Mujahid”.
Kini kau tepat dua tahun nak. Membersamaimu tumbuh adalah sebuah anugerah, merawatmu sebenarnya sebuah nikmat, membesarkanmu adalah sebuah keberkahan. Setiap tawamu, celotehmu, senyummu, manjamu, cengiranmu, kerlingan matamu, adalah kebahagianku, bahkan tangismu.
SELAMAT HARI LAHIR Dinnailaku sayang….
Semoga kelak kau menjadi seorang yang ahli dalam mengatasi permasalahan umat
Semoga tercapai semua cinta dan citamu kelak
Semoga kau menjadi anak yang sehat, hebat, kuat, berprestasi, shalihah, berbakti, disayang semua teman/guru/ustadz/ustadzah seperti yang sering umi tuliskan di buku-bukumu
Semoga kau menjadi anak yang beruntung dan bahagia di dunia-akhirat kelak
With Love, Umi Anjar
Memakan waktu 22 jam saat itu sampai melahirkan. Masuk ke bidan hari Kamis jam 9 malam dan lahir di hari Jumat-nya jam 7 malam. Luar biasa. Semua kesakitan itu musnah seketika saat ku melihat wajah mungilnya. Pemilik wajah mungil itu kami beri nama “Kamila Dinnaila Mujahid”.
Kini kau tepat dua tahun nak. Membersamaimu tumbuh adalah sebuah anugerah, merawatmu sebenarnya sebuah nikmat, membesarkanmu adalah sebuah keberkahan. Setiap tawamu, celotehmu, senyummu, manjamu, cengiranmu, kerlingan matamu, adalah kebahagianku, bahkan tangismu.
SELAMAT HARI LAHIR Dinnailaku sayang….
Semoga kelak kau menjadi seorang yang ahli dalam mengatasi permasalahan umat
Semoga tercapai semua cinta dan citamu kelak
Semoga kau menjadi anak yang sehat, hebat, kuat, berprestasi, shalihah, berbakti, disayang semua teman/guru/ustadz/ustadzah seperti yang sering umi tuliskan di buku-bukumu
Semoga kau menjadi anak yang beruntung dan bahagia di dunia-akhirat kelak
With Love, Umi Anjar
Jumat, 27 Juli 2012
Puding Cokelat
Bagaimana kabar sahabat semua? Masih puasa kan? Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang beragama Islam. Semoga puasanya lancar sampai akhir nanti. Blog Mata Hati kali ini akan menambah satu Label lagi yaitu “Dapur Kita”. Label ini nantinya saya rancang khusus pembahasan tentang resep-resep makanan. Nah, khususnya ditujukan untuk pembaca dari kalangan ibu-ibu rumah tangga dan remaja putri, biar betah “dolan” di blog ini:-)
Sebagai resep awal akan saya bahas tentang pembuatan puding cokelat.
Sssst…Anak saya Dinnaila saat saya buatkan puding cokelat ini senang banget, sampai nambah-nambah terus. Bagaimana cara membuat pudding cokelat? Mari kita pelajari, mudah kok.
Sahabat, bahan-bahan yang dibutuhkan antara lain:
1. 15 gr coklat bubuk
2. 700 ml air
3. 1/4 sdt garam
4. 1 bungkus agar-agar coklat
5. 1 kaleng susu kental manis
Jika sahabat menginginkan pakai saus, maka otomatis tambah bahan-bahan sebagai berikut.
1. 250 ml susu cair
2. 50 gr gula pasir
3. 3 sdt tepung meizena
4. 1 kuning telur
Saat saya mencoba resep ini saya beli semua bahan dari pasar tradisional yaitu di pasar Mojosongo (promosi, hehe). Saya sendiri memang untuk bahan-bahan tertentu lebih senang belanja di pasar tradisional daripada di mall. Selain harganya lebih miring juga memberikan keuntungan untuk rakyat kecil, agar pasar tradisional selalu exist. Kalo mall kebanyakan profit bukan untuk rakyat tapi untuk mereka yang sudah berkantong tebal. Saya setuju kalo di Solo ada pembatasan pembangunan mall. Kok malah bablas mbahas mall? Loh:-)
Nah, lanjut ya, terus gimana cara membuat puding cokelat? Ikuti langkah-langkahnya ya.
1. Campur susu kental manis dan air, aduk.
2. Tambahkan agar, coklat bubuk dan garam, aduk hingga coklat larut.
3. Rebus sambil diaduk hingga mendidih, angkat dan tuang ke dalam cetakan.
4. Saus : Aduk susu, gula, dan tepung, lalu masak sambil diaduk hingga mendidih. Masukkan kuning telur sambil diaduk hingga masak. Angkat dan dinginkan.
5. Sajikan puding dengan siraman saus setelah puding dingin.
Tips bagi yang punya anak kecil, sebaiknya gunakan cetakan yang berbentuk menarik seperti bentuk aneka boneka, hewan, dan sebagainya. Sebaiknya pula pilih bahan cetakan yang aman ya.
Oke, sampai di sini dulu ya, pudding cokelatnya, semoga bisa bermanfaat. Selamat beraktivitas, Salam Semangat!
Sebagai resep awal akan saya bahas tentang pembuatan puding cokelat.
Sssst…Anak saya Dinnaila saat saya buatkan puding cokelat ini senang banget, sampai nambah-nambah terus. Bagaimana cara membuat pudding cokelat? Mari kita pelajari, mudah kok.
Sahabat, bahan-bahan yang dibutuhkan antara lain:
1. 15 gr coklat bubuk
2. 700 ml air
3. 1/4 sdt garam
4. 1 bungkus agar-agar coklat
5. 1 kaleng susu kental manis
Jika sahabat menginginkan pakai saus, maka otomatis tambah bahan-bahan sebagai berikut.
1. 250 ml susu cair
2. 50 gr gula pasir
3. 3 sdt tepung meizena
4. 1 kuning telur
Saat saya mencoba resep ini saya beli semua bahan dari pasar tradisional yaitu di pasar Mojosongo (promosi, hehe). Saya sendiri memang untuk bahan-bahan tertentu lebih senang belanja di pasar tradisional daripada di mall. Selain harganya lebih miring juga memberikan keuntungan untuk rakyat kecil, agar pasar tradisional selalu exist. Kalo mall kebanyakan profit bukan untuk rakyat tapi untuk mereka yang sudah berkantong tebal. Saya setuju kalo di Solo ada pembatasan pembangunan mall. Kok malah bablas mbahas mall? Loh:-)
Nah, lanjut ya, terus gimana cara membuat puding cokelat? Ikuti langkah-langkahnya ya.
1. Campur susu kental manis dan air, aduk.
2. Tambahkan agar, coklat bubuk dan garam, aduk hingga coklat larut.
3. Rebus sambil diaduk hingga mendidih, angkat dan tuang ke dalam cetakan.
4. Saus : Aduk susu, gula, dan tepung, lalu masak sambil diaduk hingga mendidih. Masukkan kuning telur sambil diaduk hingga masak. Angkat dan dinginkan.
5. Sajikan puding dengan siraman saus setelah puding dingin.
Tips bagi yang punya anak kecil, sebaiknya gunakan cetakan yang berbentuk menarik seperti bentuk aneka boneka, hewan, dan sebagainya. Sebaiknya pula pilih bahan cetakan yang aman ya.
Oke, sampai di sini dulu ya, pudding cokelatnya, semoga bisa bermanfaat. Selamat beraktivitas, Salam Semangat!
Kamis, 26 Juli 2012
Derita Muslim Rohingnya di Negeri Para Biksu
Myanmar adalah salah satu Negara di kawasan Asia Tenggara yang terdiri dari banyak etnik. Negara yang berbatasan dengan Thailand dan Bangladesh ini dihuni oleh mayoritas pemeluk Budha sebagaimana di Thailand. Hanya sedikit penduduk muslim, sekitar 4% yang terkumpul di Negara bagian Rakhine atau Arakan dan dikenal dengan komunitas muslim Rohingnya. Mirisnya, yang minoritas ini selalu menjadi bulan-bulanan Penguasa atau kelompok sipil mayoritas.
Sejak Myanmar diberi kemerdekaan oleh penjajajah Inggris, tercatat seringkali terjadi konflik berdarah di negeri itu. Apalagi ketika pemerintahannya dipegang oleh Junta Militer. Maka, rakyat sipil yang sebagian besar beragama Budha itu tidak setuju dan berulangkali mengadakan aksi damai menentang kekejaman rezim militer. Tercatat bentrokan besar itu terjadi sepanjang tahun dan beberapa kali mengalami ledakan aksi masa.
Maka, dari gerakan itu muncullah seorang tokoh wanita yang diklaim dan dinobatkan sebagai peraih nobel perdamaian lantaran mendukung perjuangan Demokrasi dan Hak Asasi manusia. Adalah Aung San Suu Kyi. Ia dan partainya berhasil memenangi pemilu dengan meraup 82% suara rakyat Myanmar. Meski demikian, kemenangan rakyat itu dianulir oleh Junta Militer sehingga penindasan di Negara tersebut terus terjadi, tanpa jeda lama. Bahkan, berdasarkan beberapa sumber, kekerasan yang terjadi secara sistemik terhadap kalangan minoritas Muslim bersebab adanya maksud pemusnahan generasi.
Terkait mengapa warga minoritas menjadi korban pembantaian, ada banyak sumber yang beredar. Dimulai dari pemaksaan agar warga muslim keluar dari agamanya, sampai kepada isu bahwa komunitas muslim bukanlah warga asli Myanmar.
Secara fisik, warga Rohingnya memang lebih mirip dengan penduduk Bangladesh atau India. Berperawakan tinggi, kulit hitam, hidung mancung. Berbeda dengan kebanyakan warga Myanmar yang bertubuh kecil, kulit putih dan mata agak sipit. Tak heran jika kemudian Presiden Myanmar, Thien Sein, mengklaim bahwa Muslim Rohingnya bukanlah warga asli Myanmar dan harus diungsikan ke kamp-kamp pengungsian untuk dirawat oleh PBB. Semntara itu, sekjen PBB secara tegas mengatakan bahwa warga Rohingnya adalah warga Myanmar dan merupakan komunitas yang mengalami penindasan etnik paling mengenaskan sepanjang sejarah di seluruh dunia.
Bentuk Penindasan
Awal juni lalu, kita dibuat terhenyak dengan berita yang disampaikan oleh salah seorang ustadz yang bergiat dalam aneka aksi solidaritas muslim di seluruh dunia. Sang ustadz menuturkan bahwa beliau menerima kabar dari koleganya tentang pembantaian yang kembali dialami oleh saudara kita di Rohingnya. Pembantaian bertahap itu terjadi sebanyak tiga kali sepanjang bulan itu dengan korban antara 200 sd 700 Muslim yang insya Allah Syahid. (Lihat lebih lanjut: http://chirpstory.com/li/10160)
Pembantaian ini bermula dari adanya kabar burung bahwa salah satu warga Rohingnya melakukan pemerkosaan terhadap wanita Budha. Akhirnya, warga mayoritas yang diliputi bara dendam melakukan aksi dengan melakukan pembantaian membabi buta. Membakar masjid, rumah pendduduk beserta seluruh warganya dihabisi tanpa ampun.
Pembantaian ini memnag sudah direncanakan. Sejumlah pelaku sengaja melakukan makar dengan membakar pemukiman penduduk. Sedangkan sebagian lainnya berjaga di sekeliling kampung dengan senjata lengkap berupa pedang sepanjang satu meter dan aneka alat perang manual lainnya. Maka, warga yang rumahnya dibakar itu secara otomatis berlari keluar kampung untuk menyelamatkan diri beserta seluruh anggota keluarganya. Ironisnya, ketika keluar disinyalir sebagai salah satu cara menyelamatkan diri, di sana mereka malah menemui Izrail lantaran sudah ditunggu oleh para algojo bengis yang tengah berjaga-jaga. Inna lillahi wa inna ilahi roji’un.
Parahnya, warga Muslim yang didapati melaksanakan sholat berjama’ah di masjid-masjid mereka langsung dibunuh di tempat oleh pihak militer maupun warga mayoritas. Mari sejenak berfikir, di sana saudara kita ini harus menukar sholat berjama’ah dengan nyawa mereka yang hanya satu itu. Sementara kita, dengan senang hati, tanpa merasa bersalah, berdalih aneka rupa hanya karena malas untuk berjama’ah di masjid. Apa kira-kira alasan yang akan kita kemukakan di hadapan Allah jika kelak kita ditanyai tentang hal ini?
Hijrah
Ketika Rasulullah dan Para Sahabat diblokade, maka Allah memerintahkan mereka untuk berhijrah sebagai salah satu strategi jitu. Terbukti, selepas hijrah, kaum muslimin berhasil menunjukan taring kesantunannya dan kemudian kembali ke Mekkah dengan gagah perkasa, tanpa pertumpahan darah, setetespun.
Demikian pula strategi yang diterapkan oleh komunitas Muslim Rohingnya. Secara bertahap mereka melakuan hijrah laut dengan perahu kecil dari kayu yang berkapasitas antara 100 sd 200 orang per perahu. Tentunya over kapasitas, tapi lantaran penjagaan Allah, tak pernah sekalipun ditemui kapal ini oleng lantaran perjalanan jauh.
Bangladesh adalah Negara yang dijadian sebagai tujuan utama untuk berhijrah. Disamping dekat, bentuk fisik warga Muslim Rohingnya ini memang mempunyai kemiripan dengan warga Bangladesh. Mungkin saja, karena kesamaan fisik dan kesamaan agama ini, menurut pemikiran warga rohingnya, warga Bangladesh akan menerima mereka dengan lapang dada seperti halnya Anshor menerima Muhajirin kala itu.
Sayangnya, asumsi tak terbukti. Meski sama muslimnya dan sama cirri fisiknya, polisi pantai dan sebagian warga Bangladesh tak mau menerima warga Rohingnya lantaran takut dengan Junta Militer Myanmar. Maka, Muhajirin Myanmar itu hanya dikumpulkan di tepi pantai, sambil telanjang dada, hanya bersarung ala kadarnya dan dijemur diterik pantai yang tak terperih. Tanpa jeda lama, mereka langsung disuruh kembali ke Negerinya dengan menaiki kapal yang sama dengan sedikit belas kasih : sebotol air minum dan beras untuk bekal perjalanan.
Jangan bayangkan bahwa beras itu akan dimasak sebelum dimakan. Karena di dalam perahu yang kelebihan penumpang itu, tidak terdapat alat untuk memasak. Maka dipastikan bahwa Saudara Muslim kita itu memakan beras mentah sepanjang perjalanan laut. Sementara itu, di belahan bumi lain, kita sedang sibuk mencela makanan yang tak enak secara nafsu, bahkan ada diantara kita yang tengah memilih aneka makanan lezat di restauran mahal di negeri hijau bernama Indonesia. Miris. Katanya, semuslim itu satu tubuh. Tapi, kita terbahak saat mereka merintih, menjerit dalam kesusahan. Inilah fakta.
Setelah diusir dari Bangladesh, tak mungkin mereka kembali ke negerinya. Karena di negerinya itu mereka hanya akan menemuai ajal dengan cara yang sangat mengenaskan. Maka, terkatunglah perahu kayu itu di tengah samudera. Atas ijin Alah, perahu itu ada yang kemudian sampai di ujung Thailand dan sebagiannya berhasil mendarat di Aceh dengan keadaan lunglai bagai tak bernyawa.
Cerita ini masih terjadi hingga sekarang. Jika kita mau membuka mata, maka sebenarnya pemerintah Junta Militer dan kaum mayoritas sengaja merawat konflik ini hingga sekarang. Bahkan, ketika peristiwa pembantaian terjadi, di tempat kejadian terdapat polisi yang asik menonton kaum mayoritas sedang menganiaya kaum minoritas dengan peralatan perang manualnya.
Dimanakah Kita?
Hingga saat ini, pembantaian itu masih terjadi dengan berbagai skalanya. Besar ataupun kecil. Dan, dunia, diam. Amerika, diam. PBB, bisu. Lantas, Dimanakah kita? Apa yang harus kita lakukan?
Islam adalah agama yang paling menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa orang yang beriman adalah bersaudara. Dalam hadits nabi juga disebutkan bahwa orang mukmin itu bagaikan satu tubuh. Jika ada anggota tubuh yang terluka atau tersakiti, maka anggota tubuh yang lain akan mengalami sakit serupa.
Maka, persaudaraan dalam konsep islam tidak terbatas wilayah. Apalagi sekedar wilayah teritorial seperti batas desa, kota, kabupaten atau negara. Persaudaraan Islam, batasnya adalah Aqidah. Dimanapun beradanya, ketika Robbnya adalah Allah dan Rasulnya adalah Muhammad, maka kita wajib untuk membantunya karena mereka adalah saudara seaqidah kita. Tak peduli mereka berada di luar daerah atau luar negeri sekalipun. Karena nasionalisme buta adalah produk dagangan musuh Islam yang hendak mencerai-beraikan kekuatan kamu muslimin.
Sederhananya, mari membayangkan! Apa kiranya perasaan kita ketika yang dibakar adalah rumah kita? Apa yang kita rasakan bila yang berada di dalam kapal yang terkatung-katung di tengah samudera itu adalah kita, anak kita dan saudara kandung kita? Bagaimana jika yang dibunuh adalah Ibu kita? Bibi, Paman, Keponakan, Sepupu atau Saudara Kandung kita? Bagaimana jika yang diperkosa adalah adik kita yang baru akan mekar? Atau, istri yang barus aja kita nikahi? Dan anak-anak yang meregang nyawa itu adalah anak kandung kita yang telah ditunggu kehadirannya sejak lama? Mungkinkah kita berdiam diri dan berkata pongah,” Buat apa mengurusi mereka yang jauh? Yang dekat saja masih banyak?” Jika masih saja berkata demikian, semoga saja Allah mengganti hati kita dengan hati yang lain. Kerena berdasarkan riwayat Imam Atb Thabrani disebutkan, “siapa saja yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin, maka ia bukan golonganku (nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam).
Mari, lakukan sesuatu sebisa kita. Doakan mereka disetiap waktu. Agar Allah menolong para Mujahidin dan saudara muslim kita di Rohingnya, Suriah, Palestina, Moro, Pattani, dan di daerah-daerah lain. Semoga Allah menguatkan mereka dan memasukkan kita ke dalam golongan mereka. Golongan yang berperang di jalan Allah, kemudian mereka membunuh atau terbunuh, Karena balasan bagi mereka adalah surga yang lebih luas dari langit dan bumi.
Lalu, sebarkan berita yang benar. Berita yang berasal dari sumber aslinya. Bukan berita olahan kaum kafir atau media kafir lainnya. Sebarkan kepada khalayak, dan biarkan nurani mereka menilai, mana yang lebih dekat dengan kebenaran.
Jangan lupa untuk mengalokasikan harta kita. Ingat! Bukan pemberian. Melainkan saham! Ya, tanamkan Saham Jihad kita untuk saudara-saudara kita yang teraniaya itu. Alokasikan sebanyak-banyaknya, sesuai kapasitas kita. Karena Allah akan mengganti dengan kelipatan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Tanamkan saham itu secepatnya, sebelum Allah menarik karunia harta itu lantaran tidak digunakan sebagaimana mestinya.
Dan, jangan lupa untuk mempersiapkan diri. Karena perjuangan, dimulai dari sekarang. Jika kita tidak terlibat dalam aksi kebaikan, maka secara otomatis, kita tengah berada dalam proyek keburukan, disadari atau tidak, besar atau kecil skalanya.
Akhirnya, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan menguatkan kita untuk terus berjuang meninggikan kalimatNya. Karena kemenangan itu Janji Allah yang pasti terwujud, cepat atau lambat, dengan atau tanpa kita.
Diambil dari http://fimadani.com
Rabu, 25 Juli 2012
Save Muslim Rohingnya di Myanmar
Di tengah-tengah kesibukan saya menyelesaikan sebuah buku dan mengedit puluhan naskah, saya benar-benar tersentak dan secara tak sadar menangis di depan komputer kerja yang terbuka berbagai situs web. Saya tidak tahu tiba-tiba saja menangis dan memaksa saya untuk menuliskan semua ini pada blog pribadi saya. Saya membaca websitenya fimadi, detik, dan sebagainya. Saya benar-benar sakit hati saat melihat saudara-saudara semuslim saya di Burma diberlakukan tidak adil. Mereka mendapat kejahatan kemanusiaan, pemaksaan keyakinan, dan berbagai penderitaan yang lain. Hanya karena mereka beragama Islam mereka diperlakukan dengan keji. Sangat tidak adil dan sangat tidak manusiawi!
Saya sangat meyakini muslim di seluruh dunia ini adalah satu tubuh. Jika ada bagian yang sakit, maka semuanya akan terasa sakit. Muslim Rohingnya di Myanmar adalah bagian dari muslim dunia, mereka adalah bagian tubuh yang sedang sakit. Dan seharusnya kita juga merasakan sakit.
Saya sangat setuju saat KAMMI dan MUI mengutuk keras tindakan tersebut. Saya juga mengutuk keras. Demi Alloh, itu adalah kejahatan kemanusiaan, bagi saya hal itu adalah penjajahan. Negara Indonesia dalam pembukaan UUD 1945 mencantumkan penjajahan di dunia harus dihapuskan. Seharusnya pemerintah Indonesia segara bertindak membantu, semoga ada ikhtiar-ikhtiar yang baik untuk membantu saudara-saudara muslim Rohingnya. Semoga.
Sahabat, benar adanya dalam Q.S Al-Hajj ayat 40, Alloh SWT berfirman, yang artinya:
“(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”
Inilah yang dialami saudara-saudara muslim Rohingnya di Myanmar. Ya Rabb, lindungilah mereka yang mempertahankan agama Islam, berilah kemenangan terhadap mereka.
Berikut kutipan-kutipan yang saya baca dari fimadani tertanggal 12 June 2012 3:17 pm.
Populasi Muslim Rohingya di Myanmar tercatat sekitar 4,0 persen atau hanya sekitar 1,7 juta jiwa dari total jumlah penduduk negara tersebut yang mencapai 42,7 juta jiwa. Jumlah ini menurun drastis dari catatan pada dokumen Images Asia: Report On The Situation For Muslims In Burma pada Mei tahun 1997. Dalam laporan tersebut, jumlah umat Muslim di Burma mendekati angka 7 juta jiwa.
“Kami meninggalkan Myanmar karena kami diperlakukan dengan kejam oleh militer. Umat Muslim di sana kalau tidak dibunuh, mereka disiksa,” ujar seorang pengungsi, Nur Alam, seperti dikutip BBC, beberapa waktu lalu.
Nur bersama 129 Muslim Rohingya begitu umat Islam yang tinggal di utara Arakan, Myanmar, biasa disebut terpaksa harus meninggalkan tanah kelahirannya.
Ia bersama kawan-kawannya nekat melarikan diri dari Myanmar dengan menumpang perahu tradisional sepanjang 14 meter. Mereka berjejalan di atas perahu kayu dengan bekal seadanya. Akibat mesin perahu yang mereka tumpangi rusak, Muslim Rohingya pun harus rela terkatung-katung di lautan yang ganas.
Hingga akhirnya, mereka ditemukan nelayan Aceh dalam kondisi yang mengenaskan. Menurut Nur, mereka terombang-ambing ombak di lautan ganas selama 20 hari. Kami ingin pergi ke Indonesia, Malaysia, atau negara lain yang mau menerima kami, tutur Nur. Demi menyelamatkan diri dan akidah, mereka rela kelaparan dan kehausan di tengah lautan.
Gambar ini saya ambil dari http://www.facebook.com/die.for.islam?ref=stream
Begitulah potret buram kuam Muslim Rohingya yang tinggal di bagian utara Arakan atau negara bagian Rakhine. Kawasan yang dihuni umat Islam itu tercatat sebagai yang termiskin dan terisolasi dari negara Myanmar atau Burma. Daerah itu berbatasan dengan Bangladesh.
Sejak 1982, Undang-Undang Kewarganegaraan Burma tak mengakui Muslim Rohingya sebagai warga negara Myanmar. Pemerintah di negara itu hanya menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh atau keturunannya. Terjebak dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan seperti itu, kaum Rohingya pun memilih untuk meninggalkan Myanmar.
Tak mudah bagi mereka untuk melepaskan diri dari negara yang dikuasai Junta Militer itu. Tak jarang mereka harus mengalami kekerasan dan penyiksaan oleh pihak keamanan. Setelah mereka keluar dari negara tersebut, mereka tidak diperkenankan untuk kembali.
Selain itu, umat muslim Rohingya seperti terpenjara di tempat kelahirannya sendiri. Mereka tidak bisa bebas bepergian ke mana pun. Meskipun hanya ingin ke kota tetangga saja, pihak militer selalu meminta surat resmi. Saat ini, sekitar 200 ribu Muslim Rohingnya terpaksa tinggal di kamp pengungsi seadanya di Bangladesh.
Sebagian besar dari mereka yang tidak tinggal di tempat pengungsian resmi memilih untuk pergi ke negara lain melalui jalur laut, terutama melalui Laut Andaman. Kemudian, pihak Pemerintah Thailand juga mengabarkan bahwa mereka telah menahan sebanyak 100 orang Rohingya beberapa waktu yang lalu.
Pemerintah negeri Gajah Putih itu menolak menerima mereka sebagai pengungsi. Untuk mengatasi masalah ini, PBB sudah bergerak melalui salah satu organisasinya yang mengurusi pengungsi, UNHCR.
Mereka kebanyakan datang dari India pada masa kolonial Inggris di Myanmar. Sepeninggal Inggris, gerakan antikolonialisasi di Burma berusaha menyingkirkan orang-orang dari etnis India itu, termasuk mereka yang memeluk agama Islam. Bahkan, umat Muslim di Burma sering sekali menjadi korban diskriminasi.
Pada tahun 1978 dan 1991, pihak militer Burma meluncurkan operasi khusus untuk melenyapkan pimpinan umat Islam di Arakan. Operasi tersebut memicu terjadinya eksodus besar-besaran dari kaum Rohingya ke Bangladesh. Dalam operasi khusus itu, militer tak segan-segan menggunakan kekerasan yang cenderung melanggar hak asasi manusia.
Selain itu, State Law and Order Restoration Council (SLORC) yang merupakan rezim baru di Myanmar selalu berusaha untuk memicu adanya konflik rasial dan agama. Tujuannya untuk memecah belah populasi sehingga rezim tersebut tetap bisa menguasai ranah politik dan ekonomi.
Pada 1988, SLORC memprovokasi terjadinya pergolakan anti-Muslim di Taunggyi dan Prome. Lalu, pada Mei 1996, karya tulis bernada anti-Muslim yang diyakini ditulis oleh SLORC tersebar di empat kota di negara bagian Shan. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya kekerasan terhadap kaum Muslim.
Kemudian, pada September 1996, SLORC menghancurkan masjid berusia 600 tahun di negara bagian Arakan dan menggunakan reruntuhannnya untuk mengaspal jalan yang menghubungkan markas militer baru daerah tersebut. Sepanjang Februari hingga Maret 1997, SLORC juga memprovokasi terjadinya gerakan anti-Muslim di negara bagian Karen.
Sejumlah masjid dihancurkan, Alquran dirobek dan dibakar. Umat Islam di negara bagian itu terpaksa harus mengungsi. Burma Digest juga mencatat, pada tahun 2005, telah muncul perintah bahwa anak-anak Muslim yang lahir di Sittwe, negara bagian Rakhine (Arakan) tidak boleh mendapatkan akta kelahiran.
Hasilnya, hingga saat ini banyak anak-anak yang tidak mempunyai akta lahir. Selain itu, National Registration Cards (NRC) atau kartu penduduk di negara Myanmar sudah tidak diberikan lagi kepada mereka yang memeluk agama Islam.
Pemaksaan Keyakinan
Mereka yang sangat membutuhkan NRC harus rela mencantumkan agama Buddha pada kolom agama mereka.
Bahkan, Pemerintah Myanmar sengaja membuat kartu penduduk khusus untuk umat Muslim yang tujuannya untuk membedakan dengan kelas masyarakat yang lain. Umat Muslim dijadikan warga negara kelas tiga. Umat Islam di negera itu juga merasakan diskriminasi di bidang pekerjaan dan pendidikan.
Umat Islam yang tidak mengganti agamanya tak akan bisa mendapatkan akses untuk menjadi tentara ataupun pegawai negeri. Tak hanya itu, istri mereka pun harus berpindah agama jika ingin mendapat pekerjaan.
Pada Juni 2005, pemerintah memaksa seorang guru Muslim menutup sekolah swastanya meskipun sekolah itu hanya mengajarkan kurikulum standar, seperti halnya sekolah negeri, pemerintah tetap menutup sekolah itu.
Sekolah swasta itu dituding mengajak murid-muridnya untuk masuk Islam hanya karena sekolah itu menyediakan pendidikan gratis. Selain itu, pemerintah juga pernah menangkap ulama Muslim di Kota Dagon Selatan hanya karena membuka kursus Alquran bagi anak-anak Muslim di rumahnya. Begitulah nasib Muslim Rohingya.
Nasib buruk yang dialami Muslim Rohingya mulai mendapat perhatian dari Organisasi Konferensi Islam (OKI). Kantor berita Islam, IINA, pada 1 Juni 2011, melaporkan, Sekretariat Jenderal OKI yang bermarkas di Jeddah telah menggelar sebuah pertemuan dengan para pemimpin senior Rohingya. Tujuannya, agar Muslim Rohingya bisa hidup damai, sejahtera, dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Dalam pertemuan itu, para pemimpin senior Rohingya bersepakat untuk bekerja sama dan bersatu di bawah sebuah badan koordinasi. Lewat badan koordiansi itulah, OKI mendukung perjuangan Muslim Rohingya untuk merebut dan mendapatkan hak-haknya.
Pertemuan itu telah melahirkan Arakan Rohingya Union (ARU) atau Persatuan Rohingya Arakan. Lewat organisasi itu, Muslim Rohingya akan menempuh jalur politik untuk mengatasi masalah-masalah yang dialami Muslim Rohingya. Semoga.
Saya sangat meyakini muslim di seluruh dunia ini adalah satu tubuh. Jika ada bagian yang sakit, maka semuanya akan terasa sakit. Muslim Rohingnya di Myanmar adalah bagian dari muslim dunia, mereka adalah bagian tubuh yang sedang sakit. Dan seharusnya kita juga merasakan sakit.
Saya sangat setuju saat KAMMI dan MUI mengutuk keras tindakan tersebut. Saya juga mengutuk keras. Demi Alloh, itu adalah kejahatan kemanusiaan, bagi saya hal itu adalah penjajahan. Negara Indonesia dalam pembukaan UUD 1945 mencantumkan penjajahan di dunia harus dihapuskan. Seharusnya pemerintah Indonesia segara bertindak membantu, semoga ada ikhtiar-ikhtiar yang baik untuk membantu saudara-saudara muslim Rohingnya. Semoga.
Sahabat, benar adanya dalam Q.S Al-Hajj ayat 40, Alloh SWT berfirman, yang artinya:
“(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”
Inilah yang dialami saudara-saudara muslim Rohingnya di Myanmar. Ya Rabb, lindungilah mereka yang mempertahankan agama Islam, berilah kemenangan terhadap mereka.
Berikut kutipan-kutipan yang saya baca dari fimadani tertanggal 12 June 2012 3:17 pm.
Populasi Muslim Rohingya di Myanmar tercatat sekitar 4,0 persen atau hanya sekitar 1,7 juta jiwa dari total jumlah penduduk negara tersebut yang mencapai 42,7 juta jiwa. Jumlah ini menurun drastis dari catatan pada dokumen Images Asia: Report On The Situation For Muslims In Burma pada Mei tahun 1997. Dalam laporan tersebut, jumlah umat Muslim di Burma mendekati angka 7 juta jiwa.
“Kami meninggalkan Myanmar karena kami diperlakukan dengan kejam oleh militer. Umat Muslim di sana kalau tidak dibunuh, mereka disiksa,” ujar seorang pengungsi, Nur Alam, seperti dikutip BBC, beberapa waktu lalu.
Nur bersama 129 Muslim Rohingya begitu umat Islam yang tinggal di utara Arakan, Myanmar, biasa disebut terpaksa harus meninggalkan tanah kelahirannya.
Ia bersama kawan-kawannya nekat melarikan diri dari Myanmar dengan menumpang perahu tradisional sepanjang 14 meter. Mereka berjejalan di atas perahu kayu dengan bekal seadanya. Akibat mesin perahu yang mereka tumpangi rusak, Muslim Rohingya pun harus rela terkatung-katung di lautan yang ganas.
Hingga akhirnya, mereka ditemukan nelayan Aceh dalam kondisi yang mengenaskan. Menurut Nur, mereka terombang-ambing ombak di lautan ganas selama 20 hari. Kami ingin pergi ke Indonesia, Malaysia, atau negara lain yang mau menerima kami, tutur Nur. Demi menyelamatkan diri dan akidah, mereka rela kelaparan dan kehausan di tengah lautan.
Gambar ini saya ambil dari http://www.facebook.com/die.for.islam?ref=stream
Begitulah potret buram kuam Muslim Rohingya yang tinggal di bagian utara Arakan atau negara bagian Rakhine. Kawasan yang dihuni umat Islam itu tercatat sebagai yang termiskin dan terisolasi dari negara Myanmar atau Burma. Daerah itu berbatasan dengan Bangladesh.
Sejak 1982, Undang-Undang Kewarganegaraan Burma tak mengakui Muslim Rohingya sebagai warga negara Myanmar. Pemerintah di negara itu hanya menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh atau keturunannya. Terjebak dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan seperti itu, kaum Rohingya pun memilih untuk meninggalkan Myanmar.
Tak mudah bagi mereka untuk melepaskan diri dari negara yang dikuasai Junta Militer itu. Tak jarang mereka harus mengalami kekerasan dan penyiksaan oleh pihak keamanan. Setelah mereka keluar dari negara tersebut, mereka tidak diperkenankan untuk kembali.
Selain itu, umat muslim Rohingya seperti terpenjara di tempat kelahirannya sendiri. Mereka tidak bisa bebas bepergian ke mana pun. Meskipun hanya ingin ke kota tetangga saja, pihak militer selalu meminta surat resmi. Saat ini, sekitar 200 ribu Muslim Rohingnya terpaksa tinggal di kamp pengungsi seadanya di Bangladesh.
Sebagian besar dari mereka yang tidak tinggal di tempat pengungsian resmi memilih untuk pergi ke negara lain melalui jalur laut, terutama melalui Laut Andaman. Kemudian, pihak Pemerintah Thailand juga mengabarkan bahwa mereka telah menahan sebanyak 100 orang Rohingya beberapa waktu yang lalu.
Pemerintah negeri Gajah Putih itu menolak menerima mereka sebagai pengungsi. Untuk mengatasi masalah ini, PBB sudah bergerak melalui salah satu organisasinya yang mengurusi pengungsi, UNHCR.
Mereka kebanyakan datang dari India pada masa kolonial Inggris di Myanmar. Sepeninggal Inggris, gerakan antikolonialisasi di Burma berusaha menyingkirkan orang-orang dari etnis India itu, termasuk mereka yang memeluk agama Islam. Bahkan, umat Muslim di Burma sering sekali menjadi korban diskriminasi.
Pada tahun 1978 dan 1991, pihak militer Burma meluncurkan operasi khusus untuk melenyapkan pimpinan umat Islam di Arakan. Operasi tersebut memicu terjadinya eksodus besar-besaran dari kaum Rohingya ke Bangladesh. Dalam operasi khusus itu, militer tak segan-segan menggunakan kekerasan yang cenderung melanggar hak asasi manusia.
Selain itu, State Law and Order Restoration Council (SLORC) yang merupakan rezim baru di Myanmar selalu berusaha untuk memicu adanya konflik rasial dan agama. Tujuannya untuk memecah belah populasi sehingga rezim tersebut tetap bisa menguasai ranah politik dan ekonomi.
Pada 1988, SLORC memprovokasi terjadinya pergolakan anti-Muslim di Taunggyi dan Prome. Lalu, pada Mei 1996, karya tulis bernada anti-Muslim yang diyakini ditulis oleh SLORC tersebar di empat kota di negara bagian Shan. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya kekerasan terhadap kaum Muslim.
Kemudian, pada September 1996, SLORC menghancurkan masjid berusia 600 tahun di negara bagian Arakan dan menggunakan reruntuhannnya untuk mengaspal jalan yang menghubungkan markas militer baru daerah tersebut. Sepanjang Februari hingga Maret 1997, SLORC juga memprovokasi terjadinya gerakan anti-Muslim di negara bagian Karen.
Sejumlah masjid dihancurkan, Alquran dirobek dan dibakar. Umat Islam di negara bagian itu terpaksa harus mengungsi. Burma Digest juga mencatat, pada tahun 2005, telah muncul perintah bahwa anak-anak Muslim yang lahir di Sittwe, negara bagian Rakhine (Arakan) tidak boleh mendapatkan akta kelahiran.
Hasilnya, hingga saat ini banyak anak-anak yang tidak mempunyai akta lahir. Selain itu, National Registration Cards (NRC) atau kartu penduduk di negara Myanmar sudah tidak diberikan lagi kepada mereka yang memeluk agama Islam.
Pemaksaan Keyakinan
Mereka yang sangat membutuhkan NRC harus rela mencantumkan agama Buddha pada kolom agama mereka.
Bahkan, Pemerintah Myanmar sengaja membuat kartu penduduk khusus untuk umat Muslim yang tujuannya untuk membedakan dengan kelas masyarakat yang lain. Umat Muslim dijadikan warga negara kelas tiga. Umat Islam di negera itu juga merasakan diskriminasi di bidang pekerjaan dan pendidikan.
Umat Islam yang tidak mengganti agamanya tak akan bisa mendapatkan akses untuk menjadi tentara ataupun pegawai negeri. Tak hanya itu, istri mereka pun harus berpindah agama jika ingin mendapat pekerjaan.
Pada Juni 2005, pemerintah memaksa seorang guru Muslim menutup sekolah swastanya meskipun sekolah itu hanya mengajarkan kurikulum standar, seperti halnya sekolah negeri, pemerintah tetap menutup sekolah itu.
Sekolah swasta itu dituding mengajak murid-muridnya untuk masuk Islam hanya karena sekolah itu menyediakan pendidikan gratis. Selain itu, pemerintah juga pernah menangkap ulama Muslim di Kota Dagon Selatan hanya karena membuka kursus Alquran bagi anak-anak Muslim di rumahnya. Begitulah nasib Muslim Rohingya.
Nasib buruk yang dialami Muslim Rohingya mulai mendapat perhatian dari Organisasi Konferensi Islam (OKI). Kantor berita Islam, IINA, pada 1 Juni 2011, melaporkan, Sekretariat Jenderal OKI yang bermarkas di Jeddah telah menggelar sebuah pertemuan dengan para pemimpin senior Rohingya. Tujuannya, agar Muslim Rohingya bisa hidup damai, sejahtera, dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Dalam pertemuan itu, para pemimpin senior Rohingya bersepakat untuk bekerja sama dan bersatu di bawah sebuah badan koordinasi. Lewat badan koordiansi itulah, OKI mendukung perjuangan Muslim Rohingya untuk merebut dan mendapatkan hak-haknya.
Pertemuan itu telah melahirkan Arakan Rohingya Union (ARU) atau Persatuan Rohingya Arakan. Lewat organisasi itu, Muslim Rohingya akan menempuh jalur politik untuk mengatasi masalah-masalah yang dialami Muslim Rohingya. Semoga.
Langganan:
Postingan (Atom)











